Api Membakar Jalan Hati

Mengapa jalan ini begitu mengundang keberpihakan? Jalan tanpa penunjuk. Jalan yang mengundang pertanyaan. Sementara saya memilih diam. Saya ingin ke jalan itu namun jalan yang memberikan saya cahaya.

Jalan itu menuntun saya ke kota yang aneh. Setiap orang mencari jalannya. Setiap orang bertanya, “Dimanakah jalan saya?” Setiap orang menjawab, “Jalan itu hanya milik orang-orang dengan kepalsuan.”

Saya butuh telepon darimu sekarang. Janjimu yang baik-baik dulu. Janji sungguh-sungguh saya pegang. Dering telepon itu telah menggugah saya untuk bertanya kembali, benarkah jalan hati itu berhenti di kamu?

Sepuluh tahun itu adalah harapan yang kosong. Kehati-hatian saya mulai hadir. Ternyata saya tidak memulai untuk memberikan jalan hati ini. Jalan yang tidak ada. Jalan yang tidak pernah berdering teleponmu.

Sekarang hujan menggenang di jalan-jalan. Jalan sunyi. Jalan sepi. Jalan buram kembali. Jalan ke sepotong kayu berapi. Sepotong-sepotong lagi menumpuk di tungku api. Api yang membakar jalan hati.

Graha Artha Pangandaran, 2020

Continue Reading