Pembatik Level 4, Berbagi (Artikel: Implementasi Flipped Classroom Melalui Portal Rumah Belajar Pada Siswa Kelas V SDN 03 Sidomulyo)

Implementasi Flipped Classroom Melalui Portal Rumah Belajar Pada Siswa Kelas V SDN 03 Sidomulyo

Yunita Indriani

SDN 03 Sidomulyo Kabupaten Pangandaran

yunita.indriani06@gmail.com

Abstrak. Pembelajaran dengan model flipped classroom dapat meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana implementasi pembelajaran flipped classroom melalui Rumah Belajar pada peningkatan hasil belajar siswa di SDN 03 Sidomulyo Kabupaten Pangandaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif, Subyek dalam penulisan ini dengan jumlah siswa 18 orang. Pengolahan data dilakukan dari data-data wawancara dan observasi direduksi kemudian dilakukan dengan langkah triangulasi untuk meyakinkan bahwa data sesuai dan valid.  Analisis yang dilakukan dengan analisis deskriptif. Hasil dari penulisan menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran flipped classroom melalui Rumah Belajar menjadi alternatif dalam proses pembelajaran secara daring dan luring dan penerapan pembelajaran flipped classroom melalui Rumah Belajar efektif digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

kata kunci: flipped classroom, rumah belajar, hasil belajar

Abstract. Learning with the flipped classroom model can improve student learning outcomes. The purpose of this study is to describe and analyze how the implementation of flipped classroom learning through the Rumah Belajar improves student learning outcomes at SDN 03 Sidomulyo, Pangandaran Regency. The approach used in this study is a qualitative approach. The subjects in this study were 18 students. Data processing was carried out from interview data and reduced observations were then carried out by triangulation steps to ensure that the data were appropriate and valid. The analysis was carried out with descriptive analysis. The results that the implementation of flipped classroom learning through the Rumah Belajar is an alternative in the learning process online and offline and the application of flipped classroom learning through the Rumah Belajar is effectively used to improve student learning outcomes.

keywords: flipped classroom, rumah belajar, learning outcomes

A. Pendahuluan

Sejak pandemi covid-19 ini belajar dari rumah menjadikan peserta didik mengalami perubahan pola pembelajaran. Dari Kemendikbud menyatakan 68 juta peserta didik belajar dari rumah (Wuragil, 2020). Namun Kemendikbud memutuskan pembelajaran tatap muka diberikan kepada kebijakan pemerintah daerah sehingga menjadikan beberapa daerah siap melakukan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat juga sebagai langkah konkrit dalam mendukung proses pembelajaran. Salah satunya adalah Kabupaten Pangandaran disebutkan bahwa proses pembelajaran tatap muka berdasarkan Surat Edaran Nomor 421/4984 Disdikpora/2020 Tentang Panduan Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Pangandaran.

Pembelajaran pada hakikatnya menjadikan peserta didik mencapai tujuan belajar dan mengembangkan pembelajaran pada tingkat pemahaman lebih tinggi. Pola pembelajaran klasikal yang masih terjadi di sekolah menjadikan guru lebih dominan dan siswa tidak mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Observasi awal penulis dapatkan adanya pembelajaran tatap muka di masa pandemi covid-19 yang memerlukan pendekatan lebih spesifik sehingga peserta didik melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan aman dan nyaman, peserta didik dan pendidik tetap jaga jarak namun pembelajaran tetap terlaksana dengan maksimal. Berdasarkan penuturan dari salah satu peserta didik bahwa kondisi belajarnya perlu ada hal baru dan menyenangkan. Dengan demikian pendidik harus melakukan inovasi pembelajaran berbasis teknologi.

Sejalan dengan kecepatan perkembangan teknologi, kondisi pendidikan juga berkembang dan tuntutan pembelajaran yang berbeda muncul. Seiring dengan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat, pendidikan juga mengikuti dan melanjutkan perkembangannya dengan pendekatan pembelajaran yang inovatif (Ozdamli and Asiksoy, 2016). Pendekatan baru dalam pembelajaran berbasis teknologi sangat dibutuhkan. Pembelajaran dengan Portal Rumah Belajar menjadi alternatifnya. Keberadaan Portal Rumah Belajar untuk mendukung penerapan Belajar dari Rumah berdasarkan hasil survei yang diadakan oleh Kemendikbud terkait Belajar dari Rumah menempatkan Rumah Belajar di urutan kedua aplikasi sumber belajar daring paling sering diakses di masa pandemik Covid-19 (Chabibie, 2020). Adapun model pembelajarannya penulis merujuk pada flipped classroom.

Flipped classroom adalah pembelajaran yang membalik metode tradisional di mana materi biasanya diberikan pada proses pembelajaran, tetapi pada model pembelajaran ini materi diberikan sebelum proses pembelajaran sehingga ketika proses kegiatan pembelajaran, peserta didik fokus untuk mendiskusikan materi atau masalah yang belum dipahami terkait materi yang telah dipelajari peserta didik dan atau mengerjakan tugas. Model pembelajaran dapat diterapkan ketika pendidik ingin meminimalkan jumlah instruksi langsung oleh pendidik kepada peserta didiknya dalam mengajarkan materi dan memaksimalkan waktu untuk berinteraksi satu sama lain dalam membahas permasalahan terkait materi yang belum dipahami sehingga siswa memiliki waktu yang lebih banyak dalam memahami materi secara mandiri (Chabibie, 2020).

Oleh karena itu, penulis memilih flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar sebagai sumber belajarnya.  Berdasarkan latar belakang di atas penulis membuat rumusan masalah sebagai Batasan dari penulisan ini:

  1. Bagaimanakah mengimplementasikan flipped classroom melalui Portal Rumah Belajar pada peserta didik SDN 03 Sidomulyo?
  2. Bagaimanakah hasil belajar peserta didik melalui flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar?

Tujuan dari penulisan ini yaitu:

  1. Mengimplementasikan flipped classroom melalui Portal Rumah Belajar pada peserta didik SDN 03 Sidomulyo.
  2. Mengetahui hasil belajar peserta didik melalui flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar.

B. Metodologi

Dalam penulisan artikel ini penulisan menggunakan pendekatan kualitatif. Aktivitas kegiatan di SDN 3 Sidomulyo di bulan September dan Oktober 2020. Subyek pada penulisan yaitu peserta didik kelas 5 (lima) sejumlah 18 peserta didik.

Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi literatur (Warsita et al., 2020).

Pengolahan data dilakukan dari data-data wawancara dan observasi direduksi kemudian dilakukan dengan langkah triangulasi untuk meyakinkan bahwa data sesuai dan valid.  Analisis yang dilakukan dengan analisis deskriptif.

C. Hasil dan Pembahasan

  1. Hasil dari pembelajaran flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar

Pendekatan flipped classroom ini merupakan teknologi pendukung ilmu pedagogi yang memiliki dua komponen: 1) menggunakan komputer sebagai pembelajaran langsung di luar kelas melalui video pembelajaran dan 2) kegiatan pembelajaran interaktif di dalam kelas (Nurpianti, Suwarma and Jauhari, 2018).

Sejalan dengan pendapat Bergman dan Sams (2012) dalam (Maolidah, Ruhimat and Dewi, 2017) bahwa Model pembelajaran flipped classroom adalah salah satu upaya untuk memberi solusi permasalahan berpikir kritis yang dapat diterapkan dalam menghadapi pendidikan abadi 21 ini. Pada dasarnya, konsep model pembelajaran flipped classroom yaitu siswa di rumah mengerjakan apa yang dilakukan di kelas yaitu belajar dengan memahami materi yang telah diberikan oleh guru, dan di kelas siswa mengerjakan apa yang biasanya dikerjakan siswa di rumah yaitu mngerjakan soal dan menyelesaikan masalah. Dapat kiranya pendidik dan peserta didik dapat berinteraksi dengan mengintegrasikannya (Chandra and Nugroho, 2017) pada Portal Rumah Belajar.

Berdasarkan hasil pembelajaran flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar terdapat beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh peserta didik.

Tabel 1 Langkah Peserta Didik dalam Pembelajaran Flipped Classroom Melalui Portal Rumah Belajar di SDN 3 Sidomulyo (Chabibie, 2020)

SintaksPeserta Didik
Sebelum PembelajaranMempelajari bahan belajar dari Portal Rumah Belajar dan petunjuk belajar yang diberikan pendidik melalui WAG.Menginformasikan bahan belajar dari Portal Rumah Belajar dan petunjuk belajar yang telah dipelajari kepada temannya
Saat PembelajaranPeserta didik berdiskusi terkait tugas yang diberikan pendidik dengan kelompoknya diarahkan dan difasilitasi oleh pendidik.Peserta didik membuat resume/ kesimpulan hasil diskusi dan mempresentasikan di depan pendidik.Setiap peserta didik membuat kesimpulan berdasarkan pemahaman mereka atau mengerjakan kuis yang diberikan pendidik
Setelah PembelajaranPeserta didik dapat diberikan tugas untuk membuat poster atau bahan belajar sederhana yang diperoleh dari analisis pada Portal Rumah Belajar. Tugas dapat dilakukan secara kolaborasi, antara peserta didik yang memiliki gawai dan tidak tetapi rumahnya saling berdekatan, atau sesuai kelompok belajarnya

Berdasarkan langkah-langkah di atas, penulis mendapatkan hasil bahwa peserta didik dapat secara aktif mengikuti pembelajaran melalui flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar. Peserta didik sangat antusias karena pembelajaran menggunakan Portal Rumah Belajar lebih leluasa untuk mengulik informasi yang lainnya. 18 peserta didik menyatakan bahwa Portal Rumah Belajar sangat menyenangkan. Selain di kelas, Portal Rumah Belajar dapat diakses secara gratis di rumah.

2. Pembahasan dari pembelajaran flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar

Gambar 1 Peserta Didik Mengakses Portal Rumah Belajar di Rumah

Salma (10) peserta didik kelas 5 (lima) SDN 3 Sidomulyo setelah mendapatkan arahan dan informasi bahan belajar dari Portal Rumah Belajar (https://belajar.kemdikbud.go.id/), mempelajari bahan belajar dari Portal Rumah Belajar. Semangatnya belajar memumpuk dirinya untuk selalu belajar. Persiapan ini kurang lebih 1 minggu dan atau beberapa hari sebelum memasuki pembelajaran tatap muka.

Gambar 2 Pendidik Memeriksa Tugas dari Peserta Didik

Peserta didik di kelas (pembelajaran tatap muka) dilakukan pemeriksaan hasil belajarnya sehingga mendapatkan koreksi serta mendapatkan nilainya. Ketuntasan peserta didik semuanya sangat memuaskan. Melalui pembelajaran yang interaktif ini kemudian peserta didik berdiskusi antar temannya.

Gambar 3 Peserta Didik Berdiskusi di Kelas (Tatap Muka)

Dengan berdiskusi dari materi/bahan ajar yang sudah disampaikan sebelumnya, sehingga peserta didik sudah mendapatkan informasi dari Portal Rumah Belajar dan tambahan wawasan sehingga apa yang dibahas merupakan hasil dan catatan yang telah dibawa dari rumah.

Gambar 4 Presentasi di Depan Pendidik dan Peserta Didik Lainnya

Setelah berdiskusi, kemudian satu per satu dapat menyampaikan hasil diskusi dan pemahaman peserta didik pada tema sistem pencernaan pada manusia. Tema ini diharapkan peserta didik mampu menjelaskannya.

Lebih dari itu, peserta didik lebih fokus memberikan penjelasan karena telah menguasai setelah berdiskusi dan mempelajarinya dari Portal Rumah Belajar.

Gambar 5 Peserta Didik Mengerjakan Bank Soal di Portal Rumah Belajar

Setelah melaksanakan pembelajaran di kelas, peserta didik dapat mengerjakan Bank Soal pada Portal Rumah Belajar. Bank Soal sebagai bahan evaluasi pembelajaran. Hasil belajar 18 peserta didik dari pembelajaran melalui flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar ini semakin meningkat.

D. Simpulan dan Saran

Kesimpulan dari penulisan ini adalah:

  1. Implementasi dari pembelajaran melalui flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar sangat tepat sebagai pembelajaran berbasis teknologi dan memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta didik.
  2. Hasil belajar peserta didik dari pembelajaran melalui flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar terjadi peningkatan. Terbukti wawasan dan penguasan serta pengamalan peserta didik masing-masing semakin kreatif.

Saran kepada penulis selanjutnya agar dapat melakukan uji secara kuantitatif dalam pembelajaran flipped classroom menggunakan Portal Rumah Belajar dengan pendekatan analisis konten.

E. Pustaka Acuan

Chabibie, M. H. (2020) Panduan Penerapan Model Pembelajaran Inovatif dalam BDR yang Memanfaatkan Rumah Belajar. Jakarta: Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Chandra, F. H. and Nugroho, Y. W. (2017) ‘Implementasi Flipped Classroom dengan Video Tutorial Pada Pembelajaran Fotografi Komersial’, Demandia, 2(1), pp. 20–36.

Maolidah, I. S., Ruhimat, T. and Dewi, L. (2017) ‘Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Flipped Classroom Pada Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa’, Edutechnologia, 3(2), pp. 160–170.

Nurpianti, S., Suwarma, I. R. and Jauhari, A. (2018) ‘Kajian Implementasi Pendekatan Flipped Classroom pada Pembelajaran Fisika’, in Prosiding Seminar Nasional Fisika (SINAFI), pp. 115–119.

Ozdamli, F. and Asiksoy, G. (2016) ‘Flipped Classroom Approach’, World Journal on Educational Technology: Current Issues, 8(2), pp. 98–105.

Warsita, B. et al. (2020) Penulisan Artikel Pemanfaatan Rumah Belajar. Jakarta: Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Wuragil, Z. (2020) Karena Pandemi Covid-19, Kemendikbud: 68 Juta Anak Belajar dari Rumah, https://tekno.tempo.co/. Available at: https://tekno.tempo.co/read/1372498/karena-pandemi-covid-19-kemendikbud-68-juta-anak-belajar-dari-rumah (Accessed: 21 October 2020).

F. Ucapan terima kasih  

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kemendikbud atas penyelenggaraan PembaTIK Level 4: Berbagi dan Disdikpora Kabupaten Pangandaran atas bantuan secara baik atas terselenggaranya implementasi Portal Rumah Belajar di Kabupaten Pangandaran dan Bapak Engkus, S.Pd sebagai Kepala Sekolah SDN 3 Sidomulyo.

Continue Reading

Pembatik Level 4, Berbagi (ke-5): “Tatap Maya: Inovasi Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 untuk Guru SDN Se-Kabupaten Pangandaran”

Peluang menggunakan teknologi dalam pembelajaran daring di masa pandemi covid-19 saat ini sangat terbuka. Teknologi dalam pembelajaran sudah mulai dikenal. Namun realitasnya tidak sedemikian menggembirakan.

Secara absolut, memang masih ada guru melek teknologi hanya sebuah harapan. Guru belum banyak berinovasi dalam pembelajarannya. Guru menggunakan pembelajarannya secara klasikal dan tentu saja ini masih dikategorisasikan guru belum beradaptasi dengan teknologi.

Walaupun guru pada kesehariannya berinteraksi dengan gawai dan selalu memegang gawainya sebagai bagian dari komunikasi virtual. Lantas apa yang menjadi masalahnya? Sementara kondisi di masa pandemi covid-19, pembelajaran tetaplah hal yang paling utama dilaksanakan oleh guru dan peserta didik.

Perencanaan

Kegiatan tatap maya ini dilaksanakan dalam rangka menjadikan guru-guru hebat di Kabupaten Pangandaran yang diselenggarakan pada tanggal 16 Oktober 2020 di bawah koordinasi dengan Disdikpora Kabupaten Pangandaran yang dalam kesempatan ini sebagai Narasumber, Bapak Dr. R. Iyus Surya Drajat, M.Pd selaku Kabid Pembinaan Ketenagaan Disdikpora Kabupaten Pangandaran, sebagai Moderator, Bapak Parsono Anjar Sumyana, S.Pd, M.Pd, selaku Ketua FKKG Kabupaten Pangandaran dan dihadiri pula oleh Duta Rumah Belajar Tahun 2018 Bapak Muhammad Ariefin, S.S, Gr selaku Narasumber. Pun juga Yunita Indriani, S.Pd. sebagai Sahabat Rumah Belajar Tahun 2020.

Pelaksanaan

Kesiapan guru dalam pembelajaran harus dimulai dari sekarang. Pembelajaran daring ini dapat dimaksimalkan dengan langkah-langkah konkrit. Pendekatan lainnya tentu memaksimalkan Portal Rumah Belajar.

Sehubungan dengan bantuan kuota belajar dari Pemerintah sudah diterima. Maka dari itu, guru hebat di SDN Kabupaten Pangandaran kiranya dapat menggunakan kuota belajar ini mengakses Portal Rumah Belajar secara gratis.

Pemanfaatan Portal Rumah Belajar tentu saja diperlukan langkah-langkah yang tepat. Sumber belajar di Portal Rumah Belajar cukup efektif jika guru hebat menggunakannya dengan peserta didik.

Secara ringkasnya, Portal Rumah Belajar dapat diakses oleh siapa saja. Guru harus hadir di tengah pembelajaran daring bersama peserta didik.

Evaluasi

Pelaksanaan ini mendorong guru-guru berinovasi dalam pembelajarannya melalui Portal Rumah Belajar. Secara mudah guru-guru bisa mengakses Portal Rumah Belajar. Sejalan dengan itu, Bapak Dr. R. Iyus Surya Drajat, M.Pd mendorong guru-guru untuk dapat mengakses Portal Rumah Belajar kemudian dapat dipakai untuk proses pembelajaran yang aktif dan inovatif. Inilah momentum guru-guru di SDN se-Kabupaten Pangandaran untuk menunjukkan keaktifannya di dalam pembelajaran daring menggunakan Portal Rumah Belajar.

Antusiasme Peserta di Zoom Meeting

Yang terakhir adalah peserta memiliki antusias dan semangat yang luar biasa. Guru-guru hebat di SDN se-Kabupaten Pangandaran ini menunjukkan bahwa mereka mampu mengoptimalkan pembelajaran melalui Portal Rumah Belajar.

Testimoni Peserta

Inovasi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru-guru di SDN se-Kabupaten Pangandaran melalui Portal Rumah Belajar pada akhirnya menjadikan pembelajaran lebih aktif dan menyenangkan. [YI/2020]

Continue Reading

Pembatik Level 4, Berbagi (ke-4) “Tatap Maya: Berbagi Praktik Baik Pembelajaran Melalui Portal Rumah Belajar”

Kekhawatiran dalam pembelajaran di masa pandemi covid-19 semakin menjadi-jadi dikarenakan proses pembelajaran terhenti dalam kondisi yang tidak menentu. Namun jika pandemi covid-19 ini diberikan kebijakan pada waktunya oleh pemerintah, dan serentak pembelajaran dapat dilakukan dengan tatap muka.

Lantas bagaimanakah langkah terbaiknya? Apakah pembelajaran masih tetap dengan klasikal? Sementara pendapat dari Prof. Farida Hanum menyatakan bahwa pembelajaran klasikal sudah sangat membosankan, alangkah baiknya menggunakan model kelas terbalik atau disebut dengan Flipped Classroom.

Di saat pandemi covid-19 dinyatakan selesai, tentu saja pembelajaran di sekolah membutuhkan strategi khusus di dalam menuntaskan pembelajaran yang menyenangkan. Sudah tentu perlu dikondisikan dengan mengassessmen secara cepat di awal. Terbukti, masing-masing peserta didik perlu mempelajari banyak materi sekolah yang terintegrasi.

Bagaimana kemudian seorang guru mengelola dan mengolah kembali pemahaman pembelajaran digital? oleh karena itu, guru perlu menggunakan kelas terbalik ini sebagai kondisi aktual untuk tetap memberikan kenyamanan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran.

Perencanaan

Melalui perencanaan dimulai dari pembuatan flyer sebagai informasi awal kepada peserta atau audience untuk dapat ikut serta dalam kegiatan Berbagi Praktik Baik Mengajar dari Rumah di Masa Pandemi Covid-19. Dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2020. Tatap maya ini sangat luar biasa.

Pelaksanaan

Kesiapan narasumber Sahabat Rumah Belajar sangat sempurna sehingga memberikan kelancaran dalam kegiatannya. Dihadiri sebagai Keynote Speaker dan Sambutan yaitu Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Ibu Dra. Hj.  Otin Martini, M.Pd. juga Sambutan dari Ketua MKKS Kabupaten Bandung Dinas Pendidikan Provinsi Jawabat, H. Onang Sopari, M.MPd.

Saya mengangkat pembahasan tentang Flipped Classroom yang diintegrasikan dengan Portal Rumah Belajar. Dengan alasan bahwa pelaksanaan pendidikan di Kabupaten Pangandaran sudah dibuka dan dapat dilaksanakan secara daring, kemudian flipped classroom lebih tepat untuk peserta didik di sekolah dasar.

Oleh karena itu, flipped classroom terintegrasi dengan Portal Rumah Belajar menjadi model penting bagi guru dan dapat diaplikasikannya.

Peserta di Zoom Meeting

Evaluasi

Prinsip dari kegiatan baik ini adalah mengajak semua guru-guru hebat untuk pembelajaran berbasis Portal Rumah Belajar yang dapat dilaksanakan secara daring dan luring.

Apa potensinya? Peserta didik mendapatkan banyak kemanfaatan yang diperoleh. Kondisi peserta didik lebih nyaman. Pada saat kelas daring peserta didik dapat menggunakan Portal Rumah Belajar sebagai sumber belajarnya dan pada saat kelas luring, peserta didik bisa menjadi peserta didik yang aktif dan menggugah teman-temannya untuk fokus belajar. [YI/2020]

Continue Reading

Pembatik Level 4, Berbagi (ke-3) “Tatap Muka: Belajar Rileks dan Menyenangkan dengan Mengimplementasikan Portal Rumah Belajar”

Kesempatan belajar daring saat ini sudah mulai dilaksanakan secara masif dan memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada guru dan peserta didik untuk mengakses secara digital. Apalagi kuota belajar sudah diberikan serentak oleh Mendikbud untuk peserta didik dan guru di sekolah dasar.

Efektivitas dalam pembelajaran daring masih memerlukan waktu dan pendekatan yang komprehensif. Oleh sebab itu, proses pembelajaran di Kabupaten Pangandaran diberikan kebijakan dengan Tatap Muka, berdasarkan zona yang dimiliki oleh Kabupaten Pangandaran.

Perencanaan  

Dalam proses sosialisasi Portal Rumah Belajar dalam PembaTIK Level 4 ini melalui tatap muka, saya melakukan koordinasi dengan Kadis Disdikpora Kab. Pangandaran, Bapak Drs. H. Surman, M.Pd, Sekretaris Dinas, Bapak Dr. H. M. Agus Nurdin, S.Pd, M.Pd. Kabid Pembinaaan Ketenagaan Disdikpora Kab. Pangandaran, Bapak Dr. R. Iyus Surya Drajat, M.Pd., Kabid Dikdas, Bapak Dodi Djubardi, S.Pd, Kasi Pendidik dan Tendik Dikdas, Ibu Hj. Kasmini, S.Pd, M.Pd, dan Korwil Kabupaten Pangandaran Bapak Gani Karnadi, S.Pd.Ing. Ketua FKKG Kab.Pangandaran, Bapak Parsono Anjar Sumyana SP.d MP.d, Pengawas Sekolah, Nana Suhana, S.Pd.I MM, dan Kepala Sekolah SDN 3 Sidomulyo, Engkus K.S, S.Pd.

Dengan koordinasi ini saya mendapatkan izin untuk melaksanakan Tatap Muka dalam proses sosialisasi dengan tema Belajar Rileks Menggunakan Portal Rumah Belajar Pada Masa Pandemi Covid-19 berkolaborasi dengan SRB Jawa Barat dengan KKG Suligar, KKG Pandu, KKG Purbasari, Korwil Disdikpora Kabupaten Pangandaran yang dilaksanakan pada tanggal 12-13 Oktober 2020 dan bertempat di SDN 02 Sidomulyo Kabupaten Pangandaran.

Pelaksanaan

Hari Pertama,

Pada proses pelaksanaan ini kami berkolaborasi dengan KKG Suligar, KKG Pandu, KKG Purbasari, Korwil Disdikpora Kabupaten Pangandaran. Sebagai SRB Jabar, kami menyampaikan tentang proses belajar yang rileks untuk guru-guru hebat di Kelas Tinggi dan Kelas Bawah pada SDN di Kabupaten Pangandaran.

Kami menyampaikan bahwa belajar rileks dapat dilaksanakan dengan langkah yang efektif melalui Portal Rumah Belajar. Guru bisa menggunakan pembelajaran daring dengan mengintegrasikan Portal Rumah Belajar. Dikarenakan Kabupaten Pangandaran belum memiliki akses sosialisasi dan implementasinya.

Secara pelan dan bertahap kami menyosialisasikan Portal Rumah Belajar serta mempraktikkan dalam rangka mengefektifkan pembelajaran daring antara guru dan peserta didik.

Hari Kedua,

Antusiasme dari peserta guru-guru hebat inilah dapat dikonsepsikan bahwa pembelajaran melalui Portal Rumah Belajar di SDN Kabupaten Pangandaran sangat tepat dan sangat efektif, sehingga kami memiliki keyakinan bahwa implementasi Portal Rumah Belajar di Kabupaten Pangandaran menjadi alat bantu yang solutif bagi Pendidikan terutama.

Evaluasi

Secara praktiknya, seluruh guru-guru hebat yang mengikuti kegiatan Belajar Rileks Menggunakan Portal Rumah Belajar pada masa pandemi covid-19 ini berjalan sukses. Namun harapannya ke depan mengevaluasinya dengan pendekatan kepada guru-guru terkait implementasinya dan hal-hal yang kurang dipahami pada aplikasi tersebut.

Implementasi Portal Rumah Belajar bagi Guru SDN di Kabupaten Pangandaran

Belajar Rileks Menggunakan Portal Rumah Belajar

Sejatinya, belajar adalah long life learning, sepanjang hayat. Oleh karena itu, belajar dalam digital bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru dengan belajar rileks menggunakan Portal Rumah Belajar dapat menyederhanakan pemahaman sekaligus praktiknya. Dengan Demikian, guru dan peserta didik mendapatkan manfaat dalam proses pembelajarannya, asyik dan menyenangkan. [YI/2020]

Continue Reading

Pembatik Level 4, Berbagi (ke-2) “Melalui Portal Rumah Belajar, Pembelajaran Daring Otomatis Anti Garing”

Proses pemanfaatan dalam Portal Rumah Belajar membutuhkan sosialisasi yang lebih konsisten. Adapun konsistensi ini perlu dibuatkan solusi dalam pembelajaran yang menyenangkan.

Ketidaksiapan guru-guru dalam mengaktualisasikan pembelajaran digitalnya dapat disebut karena guru gagap teknologi, guru lebih memilik tatap muka. Dua permasalahan ini sebenarnya sangat memprihatinkan. Di masa pandemi covid-19 ini, memang guru lebih sulit menyampaikan materi dalam pembelajaran.

Belum lagi, guru masih membutuhkan informasi yang terkadang justru malah menjadi informasi tidak tersampaikan, karena itu, dibutuhkan langkah-langkah pemahaman yang benar terhadap pembelajaran daring di sekolah.

Banyaknya survei menyebutkan bahwa pembelajaran daring benar-benar garing. Hal ini sangat miris. Sementara peserta didik memerlukan pemahaman komprehensif dalam proses pembelajarannya. Siasat yang perlu disampaikan adalah hadirnya Sahabat Rumah Belajar pada PembaTIK Level 4 ini.

 Kehadirannya Sahabat Rumah Belajar PembaTIK Level 4 Berbagi kali ini mengelolanya menjadi SRB Nusantara Berbagi. Tema yang diangkat sangat menarik yaitu : Inovasi Pembelajaran Memanfaatkan Portal Rumah Belajar

Aksi SRB Nusantara Berbagi

Sungguh kegiatan yang implementatif. SRB Nusantara Berbagi dengan empat narasumber. Maka dari itu, kekompakan dan kerjasama tim ini dibutuhkan. Sangat membanggakan. Semua anggota dalam tim SRB Nusantara Berbagi dapat membagi diri untuk membawa materi pembelajarannya.

a. Persiapan

Upaya untuk sosialisasi ini dilakukan dengan pembuatan flyer yang berisi narasumber dan materi yang akan disampaikan juga link zoom yang digunakan.

Informasi yang masif disampaikan melalui media sosial Instagram.

b. Pelaksanaan

Proses pelaksanaan berjalan sesuai dengan yang diharapkan bersama. Kegiatan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 11 Oktober 2020. Kami menyampaikan banyak informasi tentang pembelajaran daring. Narasumber dalam SRB Nusantara Berbagi yaitu;

Pemanfaatan Edugame dalam Memahami Konsep Perbandingan Bilangan (Solehadin Kusnendi, M.Pd, SRB Jabar)

Rumah Belajar in Blended Learning (Ari Sulistiyawati, M.Pd, SRB Lampung)

Flipped Classroom terintegrasi Rumah Belajar di Masa Pandemi Covid-19 (Yunita Indriani, S.Pd, SRB Jabar)

Pembelajaran Syncronus dan Asyncronus di Masa Pandemi Covid-19 (Srikandi Dwi Poncowati, SRB Papua)

Supriyatni (Moderator, SRB Bangka Belitung)

Kami merasakan betul bahwa pembelajaran yang dianggap sebagai pembelajaran yang menyenangkan apabila pembelajaran menggunakan Portal Rumah Belajar.

Saya menyampaikan tentang Flipped Classroom terintegrasi Rumah Belajar di Masa Pandemi Covid-19 ini sangat tepat. Apalagi kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran telah memutuskan bahwa di Sekolah Dasar bisa terbuka dengan menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Kesiapan infrastuktur ini diharapkan sejalan juga dengan proses pembelajaran daring dan luring.

Oleh karena itu, flipped classroom ini dapat dilakukan oleh guru hebat jika kebijakannya seperti di atas. Menurut saya, kemudahan dari flipped classroom ini cukup banyak yang nantinya akan menguntungkan bagi guru-guru hebat di Indonesia.

Kemudahan lainnya adalah flipped classroom bisa digunakan dalam proses pembelajaran yang menekankan kepada active learning.

c. Evaluasi

Dari rangkaian narasumber menyampaikan informasi tentang inovasi pembelajaran di masa pandemi covid-19 ini, antusiasme peserta menjadi keyakinan kami untuk selalu mendukung guru-guru hebat melakukan kegiatan pembelajaran terintegrasi Portal Rumah Belajar.

absensi dari Daftar Hadir sangat antusias. Menariknya, inovasi pembelajaran ini sudah menjadi kebutuhan guru-guru di masa pandemi covid-19. Mereka bisa langsung praktik untuk pembelajaran yang inovatif. [YI/2020]

Continue Reading

Pembatik Level 4, Berbagi (ke-1) “Mengoptimalkan Pembelajaran Jarak Jauh Tapi Tidak Jenuh”

Pembelajaran Abad 21 membutuhkan solusi efektif dan menumbuhkan literasi digital yang efisien. Ketersediaan sumber daya insani yang aktif dan memberikan pengaruh positif dalam pembelajaran di sekolah masih membutuhkan langkah konkrit. Sementara itu keadaan di masa pandemi covid 19 menjadikan pembelajaran semakin tak terarah karena guru-guru belum siap untuk mengikuti pembelajaran daring.

Sedangkan pembelajaran daring sudah wajib dilaksanakan dengan sangat ‘keterpaksaan’ yang tidak diinginkan tentunya. Setiap guru perlu menggunakan media digital untuk proses pembelajaran. Keengganan guru untuk ‘mengulik’ materi di dunia digital karena merasa belum siap dan belum tahu langkah-langkahnya.

Jika dilakukan secara masif dalam proses sosialisasi tentang Portal Rumah Belajar maka dapat dipastikan akan menjadi ‘langkah konkrit’ dan ‘meringankan’ bagi guru-guru dan peserta didik.

Kesiapan itu perlu dilakukan ‘sosialisasi’. Dengan demikian, pentingnya parade sosialisasi ini. Balad Sahabat Rumah Belajar Nepungan (BASAJAN) hadir dengan solusi efektifnya untuk pembelajaran daring.

Kampanye dari BASAJAN

A. Persiapan

Awal mula kami menyediakan flyer sebagai informasi kepada peserta untuk bergabung dalam BASAJAN ini. Flyer yang dishare ke Instagram terintegasi ke Facebook, agar teman-teman kami bisa mengikuti kegiatan BASAJAN ini lebih awal melalui Youtube.

B. Pelaksanaan

Pelaksanaan pada hari Sabtu, 26 September 2020, waktu yang tepat untuk disampaikan kepada guru-guru hebat. Semua Sahabat Rumah Belajar yang tergabung sebagai SRIKANDI Squad ini yaitu:

  1. Ai Hikmawati, M.Pd.

“Pemanfaatan Portal Rumah Belajar dalam Pembelajaran STEM pada Materi Teknologi Ramah Lingkungan”

2. Yati Nurhayati, S.Pd. (SMA NEGERI 26 Kota Bandung)

“Pembelajaran menggunakan model flipped classroom diintegrasikan dengan Edugame Rumah Belajar”

3. Yunita Indriani, S.Pd. (SD NEGERI 3 Sidomulyo)

“PJJ: Belajar Asyik live streaming Youtube menggunakan Aplikasi Streamyard Terintegrasi Portal Rumah Belajar”

4. Wulansari Retnaasih, S.Pd., M.Pd. (SMA NEGERI 2 GARUT)

“Microsoft Sway sebagai Alternatif Media Pembelajaran”

5. Tina Sundari, S.Pd., M.Pd. (SMK NEGERI 1 CISARUA KBB)

“Pembelajaran Model FCR via WA dengan Mengintegrasikan Rumah Belajar”

6. Wahyu Nur Hidayati (SDN CITARIK I)

“Pemanfaatan Kelas Maya dalam portal Rumah Belajar dalam rangka pengenalan literasi digital pada siswa tingkat dasar”

Pada bagian BASAJAN ini saya menyampaikan tentang PJJ: Belajar Asyik live streaming Youtube menggunakan Aplikasi Streamyard. Dari materi ini, secara saya mengarahkan guru-guru untuk menyampaikan materi-materi belajarnya melalui aplikasi yang belum banyak dikenal namun efektif untuk dijadikan ‘satu langkah yang memberikan kemudahan.’

Materi ini pula memberikan opsi bagi guru untuk dapat menggunakan semaksimal mungkin aplikasi-aplikasi yang terdapat pada Portal Rumah Belajar. Kehadiran Portal Rumah Belajar sebagai alternatif yang tepat bagi guru-guru untuk memberikan akses kepada peserta didik.

Dengan demikian, aplikasi Streamyard yang bisa live streaming dapat dijadikan solusi. Guru membuka aplikasinya dan materi yang disampaikan bersumber dari Rumah Portal Belajar.

Mengoptimalkan Rumah Portal Belajar dari aplikasi Streamyard merupakan bagian dari guru-guru hebat mengaplikasikan technology by utilization. Karena ketersediaannya sudah disediakan dan siap digunakan dalam proses pembelajaran, tentunya dapat memudahkan guru-guru berkreasi dalam pembelajarannya.

C. Evaluasi

Kegiatan ini membutuhkan proses berkelanjutan, jadi diharapkan setelah BASAJAN ini guru-guru mampu mengoperasionalkan secara mandiri untuk proses pembelajarannya. Kami sangat yakin, karena melalui Rumah Portal Belajar, guru dan peserta didik dapat menggunakannya sebagai tagline semua bisa belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Daftar hadir peserta dari kegiatan ini dapat diakses DAFTAR HADIR PESERTA

Pembelajaran Jarak Jauh Tapi Tidak Jenuh

Demikian saya menyimpulkan dalam kegiatan BASAJAN ini. Tidak ada kata jenuh walaupun pembelajaran jarak jauh. Karena Rumah Portal Belajar sudah hadir sebagai solusi dari anak negeri. Semua materi dari Srikandi Squad sangat tepat dan kehadirannya menjadi alternatif-solutif. [YI/2020}

Continue Reading

Support System dalam Sosialisasi PembaTIK Level 4: Berbagi

Mengawali sosialisasi PembaTIK Level 4 ini, tentu saja memerlukan support system dengan kerja tim, kerja cerdas, kerja virtual, dan dukungan yang utuh dan bersinergi. Karena melalui kerja serta dukungan dari seluruh pihak akan menjadikan kegiatan PembaTIK Level 4 menjadi kegiatan yang berorientasi kepada pembelajaran yang menyenangkan.

Terlaksananya PembaTIK Level 4 ini benar-benar secara total merupakan langkah berbagi dengan mengikutsertakan pelbagai pihak. Oleh karena itu, saya melakukan koordinasi terlebih dahulu atas maksud dari kegiatan PembaTIK Level 4 ini. Dorongan semangat ini dikarenakan seluruh pihak di Kabupaten Pangandaran benar-benar mendukung kegiatan ini.

Awalnya saya sebagai Guru PNS baru di SDN 3 Sidomulyo Kabupaten Pangandaran merasa bahwa apa yang saya lakukan ini mungkin tidak menarik, mungkin tidak berdampak positif kepada guru-guru. Namun perasaan ragu itu menjadi sirna ketika saya mulai berdiskusi dan berkoordinasi dengan seluruh pihak yang saya temui.

Support System di PembaTIK Level 4

Support system dimaknai sebagai sistem pendukung yang akan senantiasa menyukseskan kegiatan dan terlaksana dengan maksimal.

Saya setuju, support system inilah yang menjadikan seluruh kegiatan PembaTIK Level 4 saya terlaksana, terutama dalam koordinasi dengan pihak-pihak yang nanti akan merekomendasi serta mem-backup kegiatan saya di PembaTIK Level 4.

Dengan hormat dan penuh bangga saya menyebut dukungan ini sebagai kerja yang luar biasa di tengah pandemi covid-19, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, support system ini menjadi ‘rumah’ bagi saya untuk memulai dan menyelesaikan sosialiasi PembaTIK Level 4 ini.

Dukungan ini dari Kadis Disdikpora Kab. Pangandaran, Bapak Drs. H. Surman, M.Pd, Sekretaris Dinas, Bapak Dr. H. M. Agus Nurdin, S.Pd, M.Pd. Kabid Pembinaaan Ketenagaan Disdikpora Kab. Pangandaran, Bapak Dr. R. Iyus Surya Drajat, M.Pd., Ketua FKKG Kab.Pangandaran, Bapak Parsono Anjar Sumyana SP.d MP.d, Pengawas Sekolah, Nana Suhana, S.Pd.I MM, Kepala Sekolah SDN 3 Sidomulyo, Engkus K.S, S.Pd.

Pun kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari Kabid Dikdas, Bapak Dodi Djubardi, S.Pd, Kasi Pendidik dan Tendik Dikdas, Ibu Hj. Kasmini, S.Pd, M.Pd, dan Korwil Kabupaten Pangandaran Bapak Gani Karnadi, S.Pd.Ing.

Dokumentasi dari Support System ini sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak. Tentu saja masih ada yang memberikan dukungan dari yang tidak terlampir. Saya yakin hal ini bertujuan yang sama, demi pendidikan berkelanjutan, meningkatkan semangat guru-guru Indonesia semakin mengenal Portal Rumah Belajar.

Beliau-beliau banyak memberikan dukungan salah satunya terkait teknis pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Portal Rumah Belajar.

Terlaksananya kegiatan PembaTIK Level 4 ini tidak memungkinkan dikerjakan individu. Sebab berbagi hakikatnya adalah memberi manfaat untuk sekitar. Keterlibatan dari Disdikpora, Korwil, Pengawas, K3S, KKG, Kepala Sekolah, Guru-Guru KKG menjadikan kesatuan yang solid dan terbangun dengan apik.

Kebersamaan dan saling mendukung merupakan dua hal yang memberikan dampak positif serta menumbuhkan semangat yang tak terhingga.

Ribuan kata yang tidak mungkin mampu membalas semua kerja sama untuk Bapak Ibu atas waktu dan tenaga yang berenergi membuat saya yakin pembelajaran digital melalui Portal Rumah Belajar siap terlaksana.

Sebab itu, mereka adalah support system saya yang menjadikan kegiatan sosialisasi Portal Rumah Belajar sangat bermakna bagi semuanya. Bismillah. (YI/2020)

Continue Reading

Motivasi Menjadi Duta Rumah Belajar 2020

Pendidikan di Indonesia dalam era industri 4.0 sesungguhnya masih memiliki tantangan. Pada skala pembelajaran dari konvensional menuju teknologi merupakan tugas yang tak mudah, kompleks, juga butuh perjuangan. Sementara itu, keberadaan tenaga pendidik (Guru) harus siap dan mampu melakukan terobosan konstruktif dalam pembelajaran berbasis teknologi di masa mendatang.

Hadirnya teknologi dalam pembelajaran saat ini merupakan keniscayaan. Maka dari itu Guru wajib membuka diri terhadap teknologi, sebab subyek pembelajaran yaitu peserta didik merupakan generasi digital, generasi yang sudah mengenal pembelajaran dengan teknologi sejak dini.

Teknologi dalam pembelajaran bukan ditakuti dan ditolak secara pragmatis. Namun sudah seyogyanya teknologi membantu proses pembelajaran dan menjadi pembelajaran yang menyenangkan. Maknanya, Guru dan teknologi adalah satu frame yang paling penting dalam pendidikan di Indonesia.

Oleh karena itu, saya memiliki motivasi yang tinggi menjadi Duta Rumah Belajar, dengan misi semangat belajar terintegrasi dan berkolaborasi dengan guru-guru hebat di Indonesia.

Improvisasi Menjadi Guru

Guru tidak boleh gagap teknologi. Sebab saya menjadi Guru, maka saya wajib menguasai dengan baik cara mengoperasikan minimal aplikasi-aplikasi yang sudah berkembang dan berkaitan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran.

Sebagai Guru di SDN 03 Sidomulyo, Kabupaten Pangandaran. Hasil observasi singkat saya terhadap guru-guru sejawat, saya dapat menyimpulkan bahwa guru-guru harus bersiap untuk improvisasi diri menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Banyaknya guru yang membutuhkan pengetahuan dasar tentang teknologi pembelajaran membuat saya semakin termotivasi bahwa saya adalah guru yang dapat mengomunikasikannya dengan efektif kepada relasi guru yang lainnya. Tentu saja dengan pengalaman-pengalaman yang telah saya dapatkan dari pelbagai sumber, di antaranya lewat PembaTIK dengan Rumah Portal Belajar.

Dari improvisasi ini guru menjadi guru kreatif dan inovatif, sehingga peserta didik semangat belajar dan meningkatkan hasil belajar. Memang hal ini tidak mudah, mindset guru pasti membutuhkan waktu tentang pembelajaran berbasis TIK, tetapi jika guru-guru bergerak secara simultan menjadi prestasi luar biasa.   

Portofolio Menjadi Guru Kreatif-Kolaboratif

 Kontribusi dalam proses pembelajaran berbasis teknologi dimulai dengan mengunggah proses pembelajaran di SD ke Channel Youtube saya. Alasannya, pembelajaran ini akan menginspirasi banyak orang termasuk guru-guru sebidang, memberikan informasi kepada wali peserta didik tentang proses akademiknya, dan juga mengajak seluruh guru di Indonesia bahwa guru mampu mengelola pembelajaran dengan teknologi.

Kemudian saya membuat web-blog dengan domain (www.anitapelangi.com). Web-blog saat itu didasari oleh ketertarikan saya dalam proses menulis. Menjadi Guru pasti akrab dengan penulisan.

Alasan itulah, saya menulis dan menjadikan web-blog ini sebagai media pembelajaran untuk peserta didik dalam mengakses informasi tentang pembelajaran. Juga, aktivitas di web-blog diisi dengan catatan-catatan ringan seputar keluarga, travelling, dan hobi memasak. Berkembangnya teknologi, web-blog semakin diminati, sebagai guru tentu saja saya sangat senang. Dengan web-blog, pembelajaran terintegrasi.

Dimulai dari mengikuti PembaTIK, saya yakin penggunaan teknologi menjadi pendorong semangat belajar seorang guru, menginspirasi guru-guru di Indonesia.

Dari PembaTIK Menjadi Duta Rumah Belajar

Guru dan teknologi adalah Sahabat Rumah Belajar. Sebab hadirnya teknologi menjadikan guru yang solutif-inspiratif. Kesempatan ini sebagai langkah improvisasi saya. 

Saya siap terpilih menjadi Duta Rumah Belajar (DRB), sebagai DRB maka saya akan mempraktikkan PembaTIK untuk guru-guru Indonesia. Berinovasi dalam pembelajaran dengan memanfaatkan Portal Rumah Belajar untuk pendidikan di Indonesia lebih maju. [YI/2020]

Continue Reading

Guru SD Terpilih PembaTIK Level 4: Berbagi

Dunia pendidikan di Indonesia membutuhkan satu terobosan yang futuristik dalam menghadapi pandemi covid-19. Terutama dalam mendukung Sumber Daya Insani yaitu Tenaga Pendidik atau Guru di Sekolah untuk berkiprah melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Teknologi merupakan media yang tepat dalam PJJ ini untuk menjadikan seorang Guru mampu berdaya saing. Guru menjadi garda terdepan pendidikan di Indonesia di masa pandemi covid 19. Maka diperlukan kemampuan yang mengintegrasikannya ke media digital. Dari setiap kemampuan tersebut harus dapat dibagikan (sharing) kepada seluruh guru di Indonesia.

Satu kebanggaan yang tak terhingga ketika proses yang sedang saya ikuti memberikan hasil yang tidak terduga. Proses ini adalah mengikuti PembaTIK 2020 (Pembelajaran berbasis TIK) yang merupakan program peningkatan kompetensi TIK bagi guru yang mengacu pada kerangka kerja peningkatan kompetensi TIK Guru UNESCO. Standar kompetensi TIK ini terdiri dari 4 level yaitu level literasi, implementasi, kreasi, dan berbagi (4i leveling).

Dari sinilah kemudian saya mengikuti PembaTIK Level 4:Berbagi.

Alhamdulillah, sebagai guru SDN 3 Sidomulyo Kabupaten Pangandaran dan mewakili Kabupaten Pangandaran ini menjadi satu kebanggaan tersendiri. Selain saya dapat mendalami ilmu tentang TIK, tentu saja saya akan memiliki keluarga baru bersama Guru Hebat di seluruh Indonesia. Menjadi 30 peserta terpilih ke PembaTIK level 4: Berbagi, inilah sebuah narasi panjang dalam kehidupan saya. Guru SD yang siap berbagi.

Terpilihnya saya dalam PembaTIK Level 4 2020, saya mulai mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan harapan saya siap berbagi kepada seluruh guru di Indonesia melalui Portal Rumah Belajar. Sebagaimana harapan saya juga bahwa akses pembelajaran melalui digitalisasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru-guru di Indonesia.

Tantangan mengoperasikan teknologi secara akademik, guru harus melek teknologi dalam rangka mencerdaskan anak bangsa. Inilah PembaTIK. Juga peluang bagi guru untuk mengenalkan Portal Rumah Belajar secara masif sehingga pembelajaran dapat dimiliki oleh seluruh peserta didik. Belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja. (YI/2020)

Continue Reading

20 Naskah tebaik “Catatan Sang Pemenang” diterbitkan Elexmedia

Judul: Sepasang Sepatu yang Menawan

Penulis: Yunita Indriani

“Apabila perjalanan menjadi sulit, 

orang ulet akan terus berjalan”

(Knute Rockne)

SEPASANG SEPATU YANG MENAWAN

Hari itu matahari mulai mengambang di ubun-ubunnya. Sepasang mata tak berkedip melihat  sepatu voli berwarna biru. Professional merek sepatu itu. Lama sekali ia menatap sepatu itu. Tajam menembus kaca yang menjadi dinding rumahnya. Seulas senyum dari penjaga toko itu mengisyaratkan tentang harga dan keunggulan dari sepatu itu, berharap ia membelinya. Namun bilamana ia tak jadi membeli maka keluarlah dari pandangan dan jangan menghalangi keindahan di toko itu. 

Aku adalah bayangan dari masalalunya.

Sepulang itu nampak wajahnya gelisah dan muram, namun sesekali tersenyum membayangkan kakinya bersemayam di sepatu itu. Sesaat memandang sepatu voli yang ia miliki saat ini, ia membayangkan kenyataannya bahwa mata kaki yang melebar membuat sepatu itu kesempitan.

Senja mulai naik. Sebuah isyarat bahwa hari akan segera direbut malam. Namun ia enggan beranjak dari lamunannya. Suara jauh di bawah sana memanggil-manggil namanya.

“Teja..Teja..Teja..”

“Ejaaa..”

“Hey!  Latihan. Lima minggu lagi pertandingan voli tingkat  provinsi segera 

dimulai!”, Berulang kali temannya mengucapkan itu.

Ia tersadar dan terbangun dari lamunannya. Lamunan tentang sepatu itu dan segera turun dari rumahnya menuju tempat latihan.

Pelatih pertandingan itu adalah ayahnya. Seorang yang keras dan tegas dalam mendidik. Saat latihan tak pernah membedakan siapapun. Baginya semua sama, anak didiknya.

“Latihan yang benar. Fokus dan serius.” ucap ayahnya dengan nada yang keras.

Ia sudah terbiasa bilamana kena marah dari ayahnya itu. Ia meyakini bahwa ayahnya seperti itu karena untuk kebaikannya. 

Seusai latihan saat membuka sepatu nampak mata kakinya bengkak, sungguh sakit yang luar biasa. Ia menenggelamkan mata kakinya itu di sebuah mata air terjun yang tak jauh dari tempat latihannya. Rasa sakit dan perih sedikit terobati sebab begitu sejuk hawa yang dirasakannya hingga ke dasar hati. Melulu ia memejamkan mata dan mengkhayal sepatu itu bersemayam di kakinya.

Saat berada di rumah, ia berniat membicarakan sepatu yang dilihatnya dalam kaca etalase sebuah toko siang tadi. Namun kata-kata itu tertahan di kerongkongan, saat ia mengetahui bahwa ayahnya sedang di lilit hutang. Semestinya diusia pada umumnya, ia bisa saja merengek-rengek atau mogok latihan bila sepatu itu tak lekas ia dapatkan. Tetapi ia anak yang mandiri, tidak manja dan bisa melihat kondisi serta situasi di sekelilingnya. 

Pandangan saling beradu.

Sorot  mata Ayahnya itu bercerita seolah-olah mengetahui tentang keinginanya itu.

“Eja, ayah  tahu kau masih kelas 5 SD, tetapi dengarkanlah nasihat ayahmu ini. Bila kau memiliki mimpi kejarlah dengan keseriusan. Allah tidak akan mengubah kaumnya sebelum ia yang mengubahnya. Jadi rubahlah kebiasaanmu yang jelek menjadi baik. Ingat manusia itu diberikan akal dan pikiran. Hidup itu harus dijalani dengan keseriusan. Ayah yakin kau mampu.”.

Saat malam tiba, ia menutup mata dan bayangan sepatu itu menari-nari dalam ubun-ubunnya. Sungguh dari wajahnya nampak gelisah. Resah. 

“Bagaimana kalau sepatu itu ada yang membeli?” ucapnya lirih dalam hati.

Esok harinya tiba-tiba ia mengambil motor milik abangnya. Sebuah motor tanpa tebeng. Dalam liburan sebulan itu, ia berniat untuk mencari uang dengan ngojeg. Suatu pekerjaan yang tak wajar dikerjakan oleh anak-anak seusianya. Medan yang curam dan terjal tak mengurungkan niat usahanya. Dapat kita bayangkan, ia tinggal di Dampit Cicalengka dengan ketinggian lebih dari 600 meter dari dataran rendah. Betapa bahayanya bagi seorang anak ngojeg. Demi sepatu itu ia membiarkan tubuhnya terbakar oleh matahari, membiarkan tubuhnya kedinginan oleh hujan, membiarkan tubuhnya memanggul ibu yang beratnya melebihi 78 kilogram dengan bawaan dari pasar dan segala macam menuju pasar dibutuhkan waktu kurang lebih 80 menit. Pernah temannya  menjadi penumpangnya. Ia tahan malu itu.

Rupiah demi rupiah ia kumpulkan dan disimpan ke dalam  sebuah celengan bambu yang ia lubangi sendiri. Di seusianya itu kerapkali lontaran ejekan temannya menggema. Ia mendadak tuli  dan   membiarkan semuanya tenggelam. Hilang bagai angin lalu. 

Satu yang ia inginkan adalah sepatu voli yang sempat ia impikan di kaca toko itu, yang terpampang manis. Sepatu  itu membuat ia gelisah dan tak bisa  tidur dan alasan lainnya sepatunya sudah kekecilan. 

Embun pagi begitu dingin menusuk rusuk. Pagi-pagi ia mulai ngojeg dan sorenya latihan.  Demikianlah selama sebulan rutinitas itu ia jalani  tanpa beban dan keluah kesah, yang ada penuh  syukur. Kerap ketika latihan ia berkaki telajang, padahal latihannya cukup berat. Sebab itu, ia kerja keras untuk mendapatkannya. Bilamana hasil ngojegnya  lebih ia menyisihkan untuk ibunya, membeli beras atau lauk-pauk.

Aku tersenyum gembira sebab impiannya itu tercapai. Sepasang  sepatu itu dengan keringatnya sendiri bersemayam di kakinya. Berkat sepatu itu, ia berjanji untuk menang dalam pertandingan voli itu. Pada tahun 2008 di bulan Juli ia menjadi Juara I sekaligus pemain putra terbaik di kejuaraan Banjar Sari Cup IV tingkat Provinsi antar SD. Namanya sempat terpampang di surat kabar dan disiarkan pada Televisi Republik Indonesia. Semenjak itu, beberapa Sekolah Menengah Pertama mulai  menawarkan beasiswa kepadanya. Berdasarkan dari diskusi dengan ayahnya akhirnya SMP PGRI menjadi pilihannya. 

Menduduki kelas 1 SMP di PGRI ia mengikuti ektrakulikuler Voli. Latihan di sana begitu keras dengan penuh bentak-bentak, namun ia abaikan berkat sepatunya itu. Seolah-olah sepatunya itu bercerita bahwa jika kamu ingin meraih mimpimu kamu harus serius dan patuh dengan penuh konsisten. 

Suatu siang dengan matahari begitu terik. Sebuah pertandingan voli berlangsung. Ia ikut di dalamnya. Saat itu yang menjadi lawannya adalah senior mereka sendiri. Kakak tingkat SMP,  juga SMA yang masih dalam komplek sekolahnya. Pada pertandingan set pertama, tim junior kalah. Wajah pelatih itu, mendadak guratan matanya menonjol, bibirnya meluap-luap dan tangannya mulai melayang-layang. 

Plaakk!!!

Tangan itu jatuh ke pipinya. Nyeri, nyinyir dan merah pipinya itu ia tahan. Tak henti dari itu, tiba-tiba pelatihnya mengepal dan meninju menuju tangannya itu. Ia yang baru berusia 12 tahun harus mengalami kekerasan dari pelatihnya di depan umum. Banyak sekali gadis-gadis seusia dan lanjut  melihat pemandangan itu. Ayahnya yang keras dan tegas belum pernah melakukan kekerasan itu. Mungkin bilamana ibunya melihat mungkin akan menangis darah dan mengadu kepada kepala sekolah supaya pelatih itu diberhentikan dan diganti. 

Matanya berkaca. 

“Tapi laki-laki tak boleh menangis dan aku harus menjadi kaktus.” Ucapnya dalam 

hati. 

Angin menyibak bajunya. Dalam waktu istirahat yang tak lama. Ia tahan nyeri itu. Ia  tahan malu itu dan ia pandangi sepatu itu sembari  menghela napas. Melulu sepatu itu yang menguatkannya. 

“Aku harus kuat dan laki-laki tak boleh menyerah.” Kata-kata itu terdengar di bilik 

jantungnya.

Mungkin bilamana waktu itu ia menyerah  set kedua dan set ketiga ia akan bernasib sama, naas. Tapi Tuhan serta sepatunya itu bersamanya dan ia beserta timnya tidak terlalu jauh ketinggalan mengejar poin.

Sepulang dari pertandingannya itu ada rasa traumatik. Tamparan serta tinjuan itu masih terbayang-bayang. Hebatnya, ia tak menceritakan kepada ayah, ibu serta abangnya.  Nian 3 jam berjalan dalam keheningan ia memandang bintang-bintang serta memejamkan matanya. 

“Fevi!” begitu ia memberi nama sepatu kesayangannya. “Kau tahu salah satu bintang terang itu adalah mimpiku. Bilamana ia meredup dan menghilang ia masih terang di kedalaman ubun-ubun serta jantungku. Baiklah aku akan membuktikan kepada pelatihku serta kepada kau  bahwa aku akan mengharukam namanya!” Kata-katanya begitu polos sementara air matanya mengambang seiring hujan deras di luar rumahnya. Kantuk pun mulai hinggap di matanya dan ia tertidur pulas dalam pelukan hujan. 

Hujan mengguyur rumahnya dan dingin begitu menusuk rusuk. 

Sempat ayahnya melarang untuk tidak latihan saat hujan datang. Sebab begitu jauh tempat latihanya itu. Hingga dibutuhkan waktu 2 jam untuk menempuhnya. Tapi ia keras kepala dengan mimpinya. Tak pernah membolos latihan sekalipun sakit. Alasan lainnya  bayangan  pelatihnya membuat bulu kuduknya merinding. 

Kelok-kelokan jalan yang terjal dari dataran tinggi menuju dataran rendah tak membuat ia patah arang. Latihan dari sore sampai malam dan ia pulang ke rumah larut malam. Terbayang bagaimana dinginnya gunung, bagaimanya nyamuk-nyamuk menghisap darah pada kulitnya, bagaimana angin yang menerjang bajunya  atau kabut yang mendadak menjelma hantu.

Lesung senyum merona saat kerja kerasnya terbayar. Di tahun 2009 kelas 1 SMP ia mengharumkan sekolah. Pelatih, orang tua serta abangnya tersenyum dan memeluknya penuh bangga  sebab ia meraih juara  1 pada Olimpiade Olahraga Siswa Tingkat Kabupaten. Kemudian menyusul Tingkat  Provinsi meraih juara 2 pertandingan Popwilda Jabar Wilayah IV.

Ayahnya yang mulai sakit-sakitan merenung dan mulai memikirkan bakat anaknya itu. Akhirnya saat ia mulai kelas 2 SMP, ayahnya menyekolahkan ia untuk masuk Klub Tectona. Klub Tectona ini masuknya sangat susah antara lain salah satunya ialah harus memiliki prestasi. Ia bertinggi badan  170 cm akhirnya keterima di klub kebanggaan itu.

Latihan di klubnya itu 3 kali dalam seminggu.  Kerap seusai sekolah ia meluncur menuju tempat itu yang menyita waktu perjalanan  1 jam lebih. Pulang pergi. Peringkatnya yang biasa ia raih 1, 2 atau 3 sekarang menjadi 5. Pelatih Tectona menyarankan agar ia pindah sekolah dan tinggal di asrama Tectona.

Di pagi itu, terlihat guratan pelatih voli SMP PGRI sangat sedih dan matanya berkaca. Kepala sekolah, guru-guru dan teman-temannya kecewa padanya. Baginya ia adalah salah satu bunga yang indah di sekolahnya itu yang bisa mengindahkan dan mewangi. Namun, segala keputusan harus diterima. Dua bening mata Teja nampak berkaca. 

Ayah serta ibunya mengantarkan ia menuju asrama. Tak lupa ia membawa sepatu professional  berwarna biru “Fevi” ke dalam tasnya. Meski ia tahu bahwa sepatunya itu sudah sempit. Namun, sepatu itu seperti ada cahaya yang menerangi saat lelah dan jenuh. Sepatunya itu adalah bagian dari mimpinya. Ia ingin menjadi atlet voli tingkat nasional.

Setibanya, ia disambut oleh teman-teman baru yang rata-rata adalah seorang atlet. Udara di asrama sangat dingin, namun tak masalah baginya. Seakan semua rintangan itu tak ada artinya  bagi dia selain cambuk semangat. Di dalam kamar, ia memasang poster Laudry Maispetella, seorang tosser terbaik nasioal. Berharap ia sepertinya. Ia mulai meramu kata-kata motivasi serta target yang ingin ia capai dan jadwal harian di diding tembok dekat dengan kasurnya. Foto ayah, ibu, dan abangnya ia simpan di atas meja. Tak lupa Si Fevi disimpan di dekat fotonya itu.

Menimba ilmu di klub kesayanganya itu diusianya yang ke 14 tahun membuahkan hasil. Melulu  kejuaraan ia raih. Diantaranya ia beserta timnya meraih juara 1 pada pertandingan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional tingkat kota, juara 1 tingkat provinsi dan yang menggembirakan adalah juara 1 tingkat Nasional. Di tingkat Nasional ini, pengalaman sangat berharga ia bertemu suku, adat, serta watak yang berbeda. Pada pertandingan Olimpiade saat tingkat Nasional, ayahnya sakit jadi ibu dan abangnya tak bisa melihat pertandingan. Kala itu dalam GOR suara teriak pendukung sangat histeris. Ia melihat di antara penonton. 

“Andai mereka ada.” Ucapnya dalam hati. Matanya sedikit kosong.

Namun ia mengandaikan senyum mereka ada di antara barisan penonton itu, seperti pada pertandingan Banjar Sari Cup saat ia SD dulu. Ia tersenyum. Seluruh energi terkumpul di tangannya itu. Ia adalah tosser kebanggaan timnya.

Teriak histeris, dan akhirnya Jawa Barat meraih juara pertama. 

Ia mencium piala itu sembari sujud syukur. Baginya kerendahan hati adalah kunci keberhasilannya. Ia mendapat selamat dari kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat. Gadis-gadis serta pemain dari provinsi lainnya ingin berfoto bersamanya. Pengalaman itu membuatnya bersyukur. Kerja keras dari mulai disiplinnya latihan, tegasnya pelatih, cedera tangannya terbayar sudah.

Seusai pertandingan Olimpiade Tingkat Nasional itu. Ia diantarkan oleh Bapak Dinas Pendidikan. Adalah suatu kehormatan bisa ditemani olehnya. Apalagi diantarkan menuju rumahnya yang berdataran tinggi. Sudah setahun ia tak pulang rumah. Peluk cium dari ayah, ibu dan abangnya bangga akan kehadiran anaknya itu. Apalagi dengan membawa piala.

Dua hari ia berada di rumahnya. Sebenarnya ia masih kangen. Tapi ia harus mendisiplinkan diri sebab hari Senin adalah waktu menimba ilmu di SMP serta menimba ilmu di klubnya. 

Menuju asrama. Aroma keceriaan tercium dari wajahnya, inginnya ia bercerita pada pelatih serta teman-temannya. Namun, cerianya itu mulai surut saat ia mengetahui kabar burung bahwa ia telah mesum dengan teman gadisnya. Kala itu usianya berusia 14 tahun. Ia difitnah. Semua teman serta pelatihnya sempat mengabaikan dan ia dikucilkan. Pernah saat makan malam ia mendengar temannya sedang bergosip.

“Aku tak menyangka ternyata seorang pendiam serta alim juga seperti itu. Sholat aja 

lima waktu tapi tetep mesum dilakoni!!”

Hatinya teriris. Ia tuli dan membiarkan. Ia mengambil makan seadanya dan berbegas menuju kamar. 

“Tuhan, cobaan apalagi ini?” Lirih dalam hati.

“Fevi, kau tahu. Aku ini hanya fokus sama mimpiku. Aku tak mungkin melakukan 

perbuatan sehina itu. Ayahku mengajarkan aku untuk tidak melakukan hal-hal yang 

bisa merusak nama  serta mimpi. Mengapa semua temanku tak mempercaiku bahkan 

pelatihku?” Matanya  berkaca.

“Biarlah waktu yang membuktikannya. Aku harus bersabar.”

Seminggu berlalu. Akhirnya pelatihnya mulai berani bersapa dengannya dan menanyakan kebenarannya itu.

“Eja..aku tahu prestasimu saat ini sedang menaik. Tapi aku kecewa. Prestasimu itu 

tidak diiringin dengan akhlak yang baik.”

“Bang, itu tidak benar. Abang juga tahu Eja bagaimana orangnya. Eja tak mungkin 

melakukan hal sehina itu!”

“Baiklah, untuk sementara ini Abang mempercayaimu!”

Ia selalu berdo’a di tahajudnya supaya Allah membukakan pintu kepada yang telah menyebarkan fitnah kepadanya. Tiga hari kemudian. Teman gadisnya datang menghampirinya. Ternyata ia hanya ingin meminta maaf sebab yang telah menyebarkan fitnah adalah dirinya. Alasannya sebab ia sangat menyukainya. Kejadian itu membuat ia banyak belajar. Setiap orang berhak untuk menjadi pemenang. Namun, pemenang sejati adalah pemenang yang bisa mengenali namanya sendiri.

Waktu bercerita 2 tahun kemudian. Ia diterima di SMA 27 Bandung dan mendapatkan beasiswa selama 3 tahun dikarenakan  keberhasilannya dalam  mengharumkan nama sekolah itu. Siapa yang tidak akan tertarik hatinya melihat seseorang yang berprestasi, rupawan, baik hati juga posturnya yang mencapai 181 membuatnya nampak gagah seperti di usianya sekarang 16 tahun. Ia masih seperti dulu rendah hati, kerja keras, optimis, pantang menyerah dan fokus. Ia masih bercita-cita ingin menjadi Atlet Nasional seperti Laudry Maispetella. Sampai saat ini poster itu masih ia bayangkan dalam benaknya.

“Kelak dalam poster itu adalah aku.” Lirih dalam mimpinya.  

“Hari ini adalah  sejarah hidup kita dan

 penentu siapa  kita di kemudian hari. 

 Sebab itu berikanlah  cerita indah”

                                                 –Yunita Indriani —    

Cerita ini didedikasikan untuk: Teja sepupuku dan seluruh pelajar Indonesia. Bahwa untuk menjadi sukses jangan menunggu dewasa. Namun, hari ini adalah pengumpul sukses itu. 

Continue Reading