Catatan untuk Putraku

Tadi pagi saat dalam perjalanan. Saat mengantar Mas Gibran berangkat ke sekolah. Seperti biasanya saya bercakap-cakap.

“Iban Bunda punya catatan untuk Iban ditulis tangan Bunda sendiri. Ini warisan dari Bunda yang tidak ternilai harganya.Bunda tidak tau umur bunda sampai kapan dan menemani Iban sampai kapan. Kelak jika kangen Bunda, Iban buka buku catatan dari Bunda ya. Nanti jaga yaa…Sesederhana itu”.

Malamnya, saya berikan catatan itu. Dibaca halaman pertamanya ya..

“Ca…ta…tan…un..tuk..Iban”

Dia belum lancar baca jadi dibaca persuku kata. Bunda bisa gak Bunda buat catatan untuk Iban sampai Full buku ini?katanya

ya bunda bisa.

Tiap subuh saya rajin menulis tiap kata demi kata dengan tulisan tangan yang berisi nasihat. Kelak, tulisan tersebut bisa dibaca berulang-ulang kali.

Tak banyak yang bisa saya berikan untuk Putraku selain ilmu tentang kehidupan. Bagaimana cara bertahan hidup, berkomunikasi dengan orang sampai dengan bagaimana belajar yang baik yang saya tuangkan dalam tulisan berdasarkan pengalamang tersebut berupa nasihat-nasihat.

B.J Habibie berkata jadilah mata air di sekitar kita. Harapan Bunda semoga Iban bisa menjadi mata air disekitarnya. Aamin Yaa Rabbalamiin

https://www.instagram.com/reel/ChUsN5csU-j/?igshid=YmMyMTA2M2Y=

.

Continue Reading

Melatih Tanggungjawab

Seperti biasanya saya kembali menjemput Mas Gibran pulang sekolah. Saya hampir menunggu lama 15 menit.

Lanjut saya tanya kepada mahasiswa yang kebetulan sedang bertugas menjaga gerbang, untuk mencek dan memberi tahu siswa siapa saja yang dijemput.

“Teh, kenapa Gibran belum pulang?”

“Apa Gibran masih lama?”

“Gibran belum pulang karena menulisnya belum selesai”

“Oh. Iya. Tidak apa-apa.”

Sebenarnya saya tidak apa-apa dan rela saja menunggu berjam-jam asal putraku ini memiliki tanggungjawab terhadap tugasnya ya itu belajar. Namun, saya terbentur dengan pekerjaan yang mengharuskan untuk segera menjemput Gibran. Saya pun menghampiri mahasiswa tersebut kembali.

“Teh, jika tidak keberatan bisakah untuk mencek ke kelas kira-kira sejauhmana Gibran menulis apa sudah selesai atau belum?”

“Baik Bu. Saya ke atas dulu ya”

Langit siang itu awan sedang cerah. Ada rasa bahagia bisa menjemput Mas Gibran.

Langkah kecilnya berlari. Seperti biasa dia ngambek jika difoto atau video tanpa seizinnya.

“Bunda hapus video atau foto tersebut”

“Iya..iya”

Semenjak Gibran masuk kelas 1 SD. Saya sudah mencoba mendamaikan pada diri sendiri untuk tidak terlalu berambisi, dan hanya fokus pada perkembangan anak tanpa melihat perkembangan atau kemajuan anak lainnya. Saya rasa ini adalah salah satu terapi agar orangtua tetap waras. Biarkanlah anakku berkembang dengan usahanya tanpa harus tangan saya mencampuri dengan melabeli tuh lihat anak itu uda bisa bla blah bla.

Malamnya, seperti biasa saya menemani dia belajar. Sebelumnya saya sudah tanyai apakah dia mau les dengan orang lain atau mau sama Bunda. Mau sama Bunda belajar, jawabnya.

Saat menemani belajar. Dada dalam hati sudah mulai dikontrol untuk tidak marah. Namun, dia mogok. Kemudian saya menegaskan kepadanya dengan pertanyaan sebagai pengantar.

“Mas kenapa tadi pulangnya lama”

“Gini ya Bunda, Iban lama pulang karena harus menulis dulu. Waktunya tidak cukup?”

“Apa Iban di dalam kelas main-main saat belajar?”

“Ngga Bunda waktunya yang tidak cukup”

“Iban Bunda tidak tahu di dalam kelas Iban ngapain aja. Namun, Bunda mengingatkan ke Iban jika belajar itu harus sampai berkeringat. Iban gunakan waktu sebaik-baiknya belajar. Ada tugas dari Ibu guru langsung dikerjakan. Karena itu tanggungjawab seorang anak ya itu belajar. Sedangkan tanggungjawab Bunda dan Ayah mencari uang agar Iban bisa sekolah dengan nyaman”.

Saya marah dengan menatap mata tajam. Tanpa dengan nada tinggi dengan diam sejenak.

Mata dia berkaca-kaca. Saat ini hati saya tidak boleh kalah. Putraku harus belajar tanggungjawab.

“Bunda tidak mau tau PR ini harus selesai malam ini, Iban harus belajar dan berusaha untuk bertangggungajwab pada tugas Iban sendiri. Sekarang Bunda memberikan pilihan pada Iban mau belajar sendiri atau ditemani malam ini?”

“Ingin belajar sendiri”

Saya masuk ke kamar. Menatap langit-langit. Mengamati lampu yang mulai meredup. Sesekali mencek secara diam-diam apa Gibran melaksanakan tugasnya atau tidak. Masya Allah Tabarakallah, dia sedang belajar. Saya yakin semua orangtua ketika melihat anaknya sedang belajar matanya pasti terharu. Selanjutnya saya kembali lagi ke kamar. Seperti amanat dia bahwa hanya ingin brlajar tanpa ditemani.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berlari yang semakin menghampiri.

“Bunda…lihat Iban sudah selesai mengerjakannya”.

Saya mengamati tulisannya, seperti biasa saya hanya fokus pada perkembangan anakku. Saya tidak peduli dengan betapa indahnya tulisan anak oranglain. Yang saya pedulikan adalah bagaimana usaha anakku untuk menyelesaikan tugasnya. Lalu saya pun mengapresiasinya.

“Wow selamat ya Mas. Bunda bangga sama Iban, karena Iban berusaha menyelesaikan tugas PR di malam ini. Bunda bangga”

***

.

Continue Reading