Catatan Sang Perantau

Sidomulyo, Pangandaran

Sudah hampir 20 hari, aku berada di tempat perantauan. Banyak suka dan sedih. Sukanya adalah karena bisa mengenal adat istiadat, budaya, dan mengenal tempat baru (sungguh Indonesia itu sangat kaya).

Merantauku ini tak lain demi mengabdi pada Negara ini, Indonesia. Dan perjalanan hidupku berlabuh di sini, Pangandaran.

Kalau boleh kukatakan, aku mulai jatuh cinta pada Pangandaran, jatuh cinta akan pesona alamnya serta rasa kepedulian, empati masih nampak terlihat serta jatuh cinta pada anak didik yang masih memegang kesahajaan.

Sedihnya  mungkin harus meninggalkan kampung halaman yang sudah membesarkanku sampai kurang lebih 30 tahun ini, berpisah dengan keluarga besar, Bapak, Mama, saudara dan terlebih suami.

Sulit rasanya harus berpisah tempat dengan suamiku, bayi besar. Segala apapun aku sangat ketergantungan padanya. Dan ditempat baru ini aku harus benar-benar mandiri dengan ditemani Mas Gibran.

Banyak yang menyarankan agar Mas Gibran tinggal di Bandung. Sebenarnya bukan tak ingin namun tak kuat untuk berpisah dengan anak yang dilahirkan oleh rahimku, terlebih dia masih kecil dan membutuhkan kasing sayang sang Ibunya. Aku ingin melihat tumbuh kembangnya, dan mendidik pengembangan kurikulum untuknya di usia dini.

Aku menyakini bahwa kelak bisa berkumpul lagi dengan suamiku, keluarga kecilku. Doaku semoga Allah menjaga bayi besarku. Maafkan istrimu ini yang biasanya menyiapkan baju kerja, menyiapkan sarapan, makan, menjaga rumah, serta menyambut kepulangan kerja tiap magrib pun malam. Sekarang untuk sementara kita harus benar-benar mandiri. Meskipun kita tak seatap namun hati ini tetap seatap. Percayalah bahwa istrimu ini akan menjaga kesucian pernikahan kita. Aamiin Yaa Rabballamiin

Selamat Pagi Pangandaran, aku jatuh cinta padamu.

**

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *