20 Naskah tebaik “Catatan Sang Pemenang” diterbitkan Elexmedia

Judul: Sepasang Sepatu yang Menawan

Penulis: Yunita Indriani

“Apabila perjalanan menjadi sulit, 

orang ulet akan terus berjalan”

(Knute Rockne)

SEPASANG SEPATU YANG MENAWAN

Hari itu matahari mulai mengambang di ubun-ubunnya. Sepasang mata tak berkedip melihat  sepatu voli berwarna biru. Professional merek sepatu itu. Lama sekali ia menatap sepatu itu. Tajam menembus kaca yang menjadi dinding rumahnya. Seulas senyum dari penjaga toko itu mengisyaratkan tentang harga dan keunggulan dari sepatu itu, berharap ia membelinya. Namun bilamana ia tak jadi membeli maka keluarlah dari pandangan dan jangan menghalangi keindahan di toko itu. 

Aku adalah bayangan dari masalalunya.

Sepulang itu nampak wajahnya gelisah dan muram, namun sesekali tersenyum membayangkan kakinya bersemayam di sepatu itu. Sesaat memandang sepatu voli yang ia miliki saat ini, ia membayangkan kenyataannya bahwa mata kaki yang melebar membuat sepatu itu kesempitan.

Senja mulai naik. Sebuah isyarat bahwa hari akan segera direbut malam. Namun ia enggan beranjak dari lamunannya. Suara jauh di bawah sana memanggil-manggil namanya.

“Teja..Teja..Teja..”

“Ejaaa..”

“Hey!  Latihan. Lima minggu lagi pertandingan voli tingkat  provinsi segera 

dimulai!”, Berulang kali temannya mengucapkan itu.

Ia tersadar dan terbangun dari lamunannya. Lamunan tentang sepatu itu dan segera turun dari rumahnya menuju tempat latihan.

Pelatih pertandingan itu adalah ayahnya. Seorang yang keras dan tegas dalam mendidik. Saat latihan tak pernah membedakan siapapun. Baginya semua sama, anak didiknya.

“Latihan yang benar. Fokus dan serius.” ucap ayahnya dengan nada yang keras.

Ia sudah terbiasa bilamana kena marah dari ayahnya itu. Ia meyakini bahwa ayahnya seperti itu karena untuk kebaikannya. 

Seusai latihan saat membuka sepatu nampak mata kakinya bengkak, sungguh sakit yang luar biasa. Ia menenggelamkan mata kakinya itu di sebuah mata air terjun yang tak jauh dari tempat latihannya. Rasa sakit dan perih sedikit terobati sebab begitu sejuk hawa yang dirasakannya hingga ke dasar hati. Melulu ia memejamkan mata dan mengkhayal sepatu itu bersemayam di kakinya.

Saat berada di rumah, ia berniat membicarakan sepatu yang dilihatnya dalam kaca etalase sebuah toko siang tadi. Namun kata-kata itu tertahan di kerongkongan, saat ia mengetahui bahwa ayahnya sedang di lilit hutang. Semestinya diusia pada umumnya, ia bisa saja merengek-rengek atau mogok latihan bila sepatu itu tak lekas ia dapatkan. Tetapi ia anak yang mandiri, tidak manja dan bisa melihat kondisi serta situasi di sekelilingnya. 

Pandangan saling beradu.

Sorot  mata Ayahnya itu bercerita seolah-olah mengetahui tentang keinginanya itu.

“Eja, ayah  tahu kau masih kelas 5 SD, tetapi dengarkanlah nasihat ayahmu ini. Bila kau memiliki mimpi kejarlah dengan keseriusan. Allah tidak akan mengubah kaumnya sebelum ia yang mengubahnya. Jadi rubahlah kebiasaanmu yang jelek menjadi baik. Ingat manusia itu diberikan akal dan pikiran. Hidup itu harus dijalani dengan keseriusan. Ayah yakin kau mampu.”.

Saat malam tiba, ia menutup mata dan bayangan sepatu itu menari-nari dalam ubun-ubunnya. Sungguh dari wajahnya nampak gelisah. Resah. 

“Bagaimana kalau sepatu itu ada yang membeli?” ucapnya lirih dalam hati.

Esok harinya tiba-tiba ia mengambil motor milik abangnya. Sebuah motor tanpa tebeng. Dalam liburan sebulan itu, ia berniat untuk mencari uang dengan ngojeg. Suatu pekerjaan yang tak wajar dikerjakan oleh anak-anak seusianya. Medan yang curam dan terjal tak mengurungkan niat usahanya. Dapat kita bayangkan, ia tinggal di Dampit Cicalengka dengan ketinggian lebih dari 600 meter dari dataran rendah. Betapa bahayanya bagi seorang anak ngojeg. Demi sepatu itu ia membiarkan tubuhnya terbakar oleh matahari, membiarkan tubuhnya kedinginan oleh hujan, membiarkan tubuhnya memanggul ibu yang beratnya melebihi 78 kilogram dengan bawaan dari pasar dan segala macam menuju pasar dibutuhkan waktu kurang lebih 80 menit. Pernah temannya  menjadi penumpangnya. Ia tahan malu itu.

Rupiah demi rupiah ia kumpulkan dan disimpan ke dalam  sebuah celengan bambu yang ia lubangi sendiri. Di seusianya itu kerapkali lontaran ejekan temannya menggema. Ia mendadak tuli  dan   membiarkan semuanya tenggelam. Hilang bagai angin lalu. 

Satu yang ia inginkan adalah sepatu voli yang sempat ia impikan di kaca toko itu, yang terpampang manis. Sepatu  itu membuat ia gelisah dan tak bisa  tidur dan alasan lainnya sepatunya sudah kekecilan. 

Embun pagi begitu dingin menusuk rusuk. Pagi-pagi ia mulai ngojeg dan sorenya latihan.  Demikianlah selama sebulan rutinitas itu ia jalani  tanpa beban dan keluah kesah, yang ada penuh  syukur. Kerap ketika latihan ia berkaki telajang, padahal latihannya cukup berat. Sebab itu, ia kerja keras untuk mendapatkannya. Bilamana hasil ngojegnya  lebih ia menyisihkan untuk ibunya, membeli beras atau lauk-pauk.

Aku tersenyum gembira sebab impiannya itu tercapai. Sepasang  sepatu itu dengan keringatnya sendiri bersemayam di kakinya. Berkat sepatu itu, ia berjanji untuk menang dalam pertandingan voli itu. Pada tahun 2008 di bulan Juli ia menjadi Juara I sekaligus pemain putra terbaik di kejuaraan Banjar Sari Cup IV tingkat Provinsi antar SD. Namanya sempat terpampang di surat kabar dan disiarkan pada Televisi Republik Indonesia. Semenjak itu, beberapa Sekolah Menengah Pertama mulai  menawarkan beasiswa kepadanya. Berdasarkan dari diskusi dengan ayahnya akhirnya SMP PGRI menjadi pilihannya. 

Menduduki kelas 1 SMP di PGRI ia mengikuti ektrakulikuler Voli. Latihan di sana begitu keras dengan penuh bentak-bentak, namun ia abaikan berkat sepatunya itu. Seolah-olah sepatunya itu bercerita bahwa jika kamu ingin meraih mimpimu kamu harus serius dan patuh dengan penuh konsisten. 

Suatu siang dengan matahari begitu terik. Sebuah pertandingan voli berlangsung. Ia ikut di dalamnya. Saat itu yang menjadi lawannya adalah senior mereka sendiri. Kakak tingkat SMP,  juga SMA yang masih dalam komplek sekolahnya. Pada pertandingan set pertama, tim junior kalah. Wajah pelatih itu, mendadak guratan matanya menonjol, bibirnya meluap-luap dan tangannya mulai melayang-layang. 

Plaakk!!!

Tangan itu jatuh ke pipinya. Nyeri, nyinyir dan merah pipinya itu ia tahan. Tak henti dari itu, tiba-tiba pelatihnya mengepal dan meninju menuju tangannya itu. Ia yang baru berusia 12 tahun harus mengalami kekerasan dari pelatihnya di depan umum. Banyak sekali gadis-gadis seusia dan lanjut  melihat pemandangan itu. Ayahnya yang keras dan tegas belum pernah melakukan kekerasan itu. Mungkin bilamana ibunya melihat mungkin akan menangis darah dan mengadu kepada kepala sekolah supaya pelatih itu diberhentikan dan diganti. 

Matanya berkaca. 

“Tapi laki-laki tak boleh menangis dan aku harus menjadi kaktus.” Ucapnya dalam 

hati. 

Angin menyibak bajunya. Dalam waktu istirahat yang tak lama. Ia tahan nyeri itu. Ia  tahan malu itu dan ia pandangi sepatu itu sembari  menghela napas. Melulu sepatu itu yang menguatkannya. 

“Aku harus kuat dan laki-laki tak boleh menyerah.” Kata-kata itu terdengar di bilik 

jantungnya.

Mungkin bilamana waktu itu ia menyerah  set kedua dan set ketiga ia akan bernasib sama, naas. Tapi Tuhan serta sepatunya itu bersamanya dan ia beserta timnya tidak terlalu jauh ketinggalan mengejar poin.

Sepulang dari pertandingannya itu ada rasa traumatik. Tamparan serta tinjuan itu masih terbayang-bayang. Hebatnya, ia tak menceritakan kepada ayah, ibu serta abangnya.  Nian 3 jam berjalan dalam keheningan ia memandang bintang-bintang serta memejamkan matanya. 

“Fevi!” begitu ia memberi nama sepatu kesayangannya. “Kau tahu salah satu bintang terang itu adalah mimpiku. Bilamana ia meredup dan menghilang ia masih terang di kedalaman ubun-ubun serta jantungku. Baiklah aku akan membuktikan kepada pelatihku serta kepada kau  bahwa aku akan mengharukam namanya!” Kata-katanya begitu polos sementara air matanya mengambang seiring hujan deras di luar rumahnya. Kantuk pun mulai hinggap di matanya dan ia tertidur pulas dalam pelukan hujan. 

Hujan mengguyur rumahnya dan dingin begitu menusuk rusuk. 

Sempat ayahnya melarang untuk tidak latihan saat hujan datang. Sebab begitu jauh tempat latihanya itu. Hingga dibutuhkan waktu 2 jam untuk menempuhnya. Tapi ia keras kepala dengan mimpinya. Tak pernah membolos latihan sekalipun sakit. Alasan lainnya  bayangan  pelatihnya membuat bulu kuduknya merinding. 

Kelok-kelokan jalan yang terjal dari dataran tinggi menuju dataran rendah tak membuat ia patah arang. Latihan dari sore sampai malam dan ia pulang ke rumah larut malam. Terbayang bagaimana dinginnya gunung, bagaimanya nyamuk-nyamuk menghisap darah pada kulitnya, bagaimana angin yang menerjang bajunya  atau kabut yang mendadak menjelma hantu.

Lesung senyum merona saat kerja kerasnya terbayar. Di tahun 2009 kelas 1 SMP ia mengharumkan sekolah. Pelatih, orang tua serta abangnya tersenyum dan memeluknya penuh bangga  sebab ia meraih juara  1 pada Olimpiade Olahraga Siswa Tingkat Kabupaten. Kemudian menyusul Tingkat  Provinsi meraih juara 2 pertandingan Popwilda Jabar Wilayah IV.

Ayahnya yang mulai sakit-sakitan merenung dan mulai memikirkan bakat anaknya itu. Akhirnya saat ia mulai kelas 2 SMP, ayahnya menyekolahkan ia untuk masuk Klub Tectona. Klub Tectona ini masuknya sangat susah antara lain salah satunya ialah harus memiliki prestasi. Ia bertinggi badan  170 cm akhirnya keterima di klub kebanggaan itu.

Latihan di klubnya itu 3 kali dalam seminggu.  Kerap seusai sekolah ia meluncur menuju tempat itu yang menyita waktu perjalanan  1 jam lebih. Pulang pergi. Peringkatnya yang biasa ia raih 1, 2 atau 3 sekarang menjadi 5. Pelatih Tectona menyarankan agar ia pindah sekolah dan tinggal di asrama Tectona.

Di pagi itu, terlihat guratan pelatih voli SMP PGRI sangat sedih dan matanya berkaca. Kepala sekolah, guru-guru dan teman-temannya kecewa padanya. Baginya ia adalah salah satu bunga yang indah di sekolahnya itu yang bisa mengindahkan dan mewangi. Namun, segala keputusan harus diterima. Dua bening mata Teja nampak berkaca. 

Ayah serta ibunya mengantarkan ia menuju asrama. Tak lupa ia membawa sepatu professional  berwarna biru “Fevi” ke dalam tasnya. Meski ia tahu bahwa sepatunya itu sudah sempit. Namun, sepatu itu seperti ada cahaya yang menerangi saat lelah dan jenuh. Sepatunya itu adalah bagian dari mimpinya. Ia ingin menjadi atlet voli tingkat nasional.

Setibanya, ia disambut oleh teman-teman baru yang rata-rata adalah seorang atlet. Udara di asrama sangat dingin, namun tak masalah baginya. Seakan semua rintangan itu tak ada artinya  bagi dia selain cambuk semangat. Di dalam kamar, ia memasang poster Laudry Maispetella, seorang tosser terbaik nasioal. Berharap ia sepertinya. Ia mulai meramu kata-kata motivasi serta target yang ingin ia capai dan jadwal harian di diding tembok dekat dengan kasurnya. Foto ayah, ibu, dan abangnya ia simpan di atas meja. Tak lupa Si Fevi disimpan di dekat fotonya itu.

Menimba ilmu di klub kesayanganya itu diusianya yang ke 14 tahun membuahkan hasil. Melulu  kejuaraan ia raih. Diantaranya ia beserta timnya meraih juara 1 pada pertandingan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional tingkat kota, juara 1 tingkat provinsi dan yang menggembirakan adalah juara 1 tingkat Nasional. Di tingkat Nasional ini, pengalaman sangat berharga ia bertemu suku, adat, serta watak yang berbeda. Pada pertandingan Olimpiade saat tingkat Nasional, ayahnya sakit jadi ibu dan abangnya tak bisa melihat pertandingan. Kala itu dalam GOR suara teriak pendukung sangat histeris. Ia melihat di antara penonton. 

“Andai mereka ada.” Ucapnya dalam hati. Matanya sedikit kosong.

Namun ia mengandaikan senyum mereka ada di antara barisan penonton itu, seperti pada pertandingan Banjar Sari Cup saat ia SD dulu. Ia tersenyum. Seluruh energi terkumpul di tangannya itu. Ia adalah tosser kebanggaan timnya.

Teriak histeris, dan akhirnya Jawa Barat meraih juara pertama. 

Ia mencium piala itu sembari sujud syukur. Baginya kerendahan hati adalah kunci keberhasilannya. Ia mendapat selamat dari kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat. Gadis-gadis serta pemain dari provinsi lainnya ingin berfoto bersamanya. Pengalaman itu membuatnya bersyukur. Kerja keras dari mulai disiplinnya latihan, tegasnya pelatih, cedera tangannya terbayar sudah.

Seusai pertandingan Olimpiade Tingkat Nasional itu. Ia diantarkan oleh Bapak Dinas Pendidikan. Adalah suatu kehormatan bisa ditemani olehnya. Apalagi diantarkan menuju rumahnya yang berdataran tinggi. Sudah setahun ia tak pulang rumah. Peluk cium dari ayah, ibu dan abangnya bangga akan kehadiran anaknya itu. Apalagi dengan membawa piala.

Dua hari ia berada di rumahnya. Sebenarnya ia masih kangen. Tapi ia harus mendisiplinkan diri sebab hari Senin adalah waktu menimba ilmu di SMP serta menimba ilmu di klubnya. 

Menuju asrama. Aroma keceriaan tercium dari wajahnya, inginnya ia bercerita pada pelatih serta teman-temannya. Namun, cerianya itu mulai surut saat ia mengetahui kabar burung bahwa ia telah mesum dengan teman gadisnya. Kala itu usianya berusia 14 tahun. Ia difitnah. Semua teman serta pelatihnya sempat mengabaikan dan ia dikucilkan. Pernah saat makan malam ia mendengar temannya sedang bergosip.

“Aku tak menyangka ternyata seorang pendiam serta alim juga seperti itu. Sholat aja 

lima waktu tapi tetep mesum dilakoni!!”

Hatinya teriris. Ia tuli dan membiarkan. Ia mengambil makan seadanya dan berbegas menuju kamar. 

“Tuhan, cobaan apalagi ini?” Lirih dalam hati.

“Fevi, kau tahu. Aku ini hanya fokus sama mimpiku. Aku tak mungkin melakukan 

perbuatan sehina itu. Ayahku mengajarkan aku untuk tidak melakukan hal-hal yang 

bisa merusak nama  serta mimpi. Mengapa semua temanku tak mempercaiku bahkan 

pelatihku?” Matanya  berkaca.

“Biarlah waktu yang membuktikannya. Aku harus bersabar.”

Seminggu berlalu. Akhirnya pelatihnya mulai berani bersapa dengannya dan menanyakan kebenarannya itu.

“Eja..aku tahu prestasimu saat ini sedang menaik. Tapi aku kecewa. Prestasimu itu 

tidak diiringin dengan akhlak yang baik.”

“Bang, itu tidak benar. Abang juga tahu Eja bagaimana orangnya. Eja tak mungkin 

melakukan hal sehina itu!”

“Baiklah, untuk sementara ini Abang mempercayaimu!”

Ia selalu berdo’a di tahajudnya supaya Allah membukakan pintu kepada yang telah menyebarkan fitnah kepadanya. Tiga hari kemudian. Teman gadisnya datang menghampirinya. Ternyata ia hanya ingin meminta maaf sebab yang telah menyebarkan fitnah adalah dirinya. Alasannya sebab ia sangat menyukainya. Kejadian itu membuat ia banyak belajar. Setiap orang berhak untuk menjadi pemenang. Namun, pemenang sejati adalah pemenang yang bisa mengenali namanya sendiri.

Waktu bercerita 2 tahun kemudian. Ia diterima di SMA 27 Bandung dan mendapatkan beasiswa selama 3 tahun dikarenakan  keberhasilannya dalam  mengharumkan nama sekolah itu. Siapa yang tidak akan tertarik hatinya melihat seseorang yang berprestasi, rupawan, baik hati juga posturnya yang mencapai 181 membuatnya nampak gagah seperti di usianya sekarang 16 tahun. Ia masih seperti dulu rendah hati, kerja keras, optimis, pantang menyerah dan fokus. Ia masih bercita-cita ingin menjadi Atlet Nasional seperti Laudry Maispetella. Sampai saat ini poster itu masih ia bayangkan dalam benaknya.

“Kelak dalam poster itu adalah aku.” Lirih dalam mimpinya.  

“Hari ini adalah  sejarah hidup kita dan

 penentu siapa  kita di kemudian hari. 

 Sebab itu berikanlah  cerita indah”

                                                 –Yunita Indriani —    

Cerita ini didedikasikan untuk: Teja sepupuku dan seluruh pelajar Indonesia. Bahwa untuk menjadi sukses jangan menunggu dewasa. Namun, hari ini adalah pengumpul sukses itu. 

Continue Reading

Puisi-Puisi Yunita Indriani dimuat Balai Bahasa Jabar balaibahasajabar.kemdikbud.go.id

Pembekalan Sebelum Ujian

Aku bukan guru
Yang takut kalau engkau
Menjadi orang tanpa gelarmu

Tidak ada kemenangan
Sejati ketika engkau melawan
Kemunafikan dan kesombongan

Bekalmu sebelum ujian
Jangan mencari jawaban
Ingatlah pada Tuhan

Selesaikan, tidak selamanya
Ujian itu cobaan, anakku!

Bandung, 2018

Sekolah Cahaya

Berbeda dari ruang gelap
Di sini aku sangat siap
Menjadi siswa penuh harap
Prestasi selalu kudekap

Tidak bosan kumasuki
Ruang cahaya laksana matahari
Aku menari dan bernyanyi
Ternyata aku alpa
Bahwa jam pulang lewat tak terasa

Aku bahagia di sini
Sekolahku abadi, doaku tiap hari

Bandung, 2018

Kereta Malam di Kiaracondong

Di kaca kereta
Orang-orang tidur dalam mimpinya
Aku menggunting sayapku

Aku terdiam di ujung kursi dan murung
Tidak ada suasana yang sejuk
Hanya lewat pohon besar, gelap
Lebih sunyi dari kesendirian
Tanpa obrolan kecil
Tanpa musik dan pelayan
Sekadar menawarkan bantal sandaran

Aku menginap di sini
Hujan menerjemahkan sepi
Laju kereta seperti waktu memburuku

Bandung, 2018

https://balaibahasajabar.kemdikbud.go.id/puisi-puisi-yunita-indriani/

Hujan di Rancaekek

Bahwa air hujan adalah airmata
Dari pekerja seperti mereka
Mereka yang tenggelam harapannya
Dan siap-siap menikmati pagi buta
Tanpa suara-suara mesin
Tetapi tangis yang sering

Malam tak perlu siang juga ambigu
Mereka hanya memutar lagu
Dangdut lalu pergi ke toko ibu
Beras dan kecap dan telur
Adalah teman pengantar tidur

Kemana mereka mencari
Kerja untuk tungku yang abadi
Lalu siapa yang mereka harap lagi
Seandainya anak sekolah berhenti
Uang jajan diminta berkali-kali
Istri dan suami bertengkar setiap pagi

Bandung, 2018

Biodata Penulis;
Yunita Indriani, lahir di Bandung, 22 Juni 1988. Karya puisi pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Indopos, Tabloid Bali, Majalah Cakra. Antologi puisi bersama antara lain, Bersama Gerimis (Majelis Sastra Bandung, 2010), Nun (Indopos, 2015). Sekarang aktif mengajar sebagai Guru SDN Cangkuang 01 Rancaekek Kabupaten Bandung

Selengkapnya klik https://balaibahasajabar.kemdikbud.go.id/puisi-puisi-yunita-indriani/

Continue Reading