Ketidakadilan

Mungkin dari sekian yang membaca pernah mengalami posisiku seperti ini.

Sekian purnama, ingatan ini tersimpan dalam bantal. Rasa gelisahku tiba-tiba muncul. Kumaafkan sebenarnya. Mereka menyerangku, keroyokan dan bilang kenapa kaos olahraganya dimasukan? Demi kekompakan kaosnya dikeluarkan semua, kata ketua.

Esoknya, temanku ada yang memakai kaos dikedalamkan. Namun, anehnya tak seorangpun yang mampu berkomentar dan berkata hanya sekadar bilang keluarkan kaosnya, jangan dimasukan. Tak ada satupun. Saat itu, aku menyadari benar-benar seperti bubuk ranginang, yang benar-benar tak berarti. Demikianlah.

Saat itu aku terdiam, tak mampu ku berkata tentang ketidakadilan ini. Aku hanya bisa merangkainkan kata di angin yang sepi.

Tak baik jika kita tak adil, tak baik juga jika kita menyerang. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Kita tidak akan tahu tentang mental sesorang . Mungkin itu hal sepele, namun tak bagi orang itu.

Aku memiliki prinsip, tak ingin mengomentari urusan orang lain, sebab aku pun masih banyak kekurangan. Bukan berarti aku tak peduli, namun aku belum mampu menyampaikan kata demi kata. Sebab aku takut menyakiti akibat kata-kata.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *