Phobia Naik Pesawat

Bagi yang phobia ketinggian naik pesawat memang benar-benar gelisah, takut bilamana jatuh dan sebagaimananya. Sama halnya seperti saya. Takut pada ketinggian sudah saya alami semenjak masih SD. Jangan ditanya sekelas kincir angin saya pun takut apalagi naik pesawat (:P).

O, ya lebaran tahun ini kami mudik bareng Mas Gibran. Kami kehabisan  tiket kereta api. Yaah..dari pada lihat suami nangis bombay  dipojokan berhari-hari atau wajahnya murung karna tidak bisa mudik (pulang kampung), jadi dipilihlah via pesawat terbang dengan menggunakan Garuda.

Kami memilih via itu sebab kalau naik bis dari Bandung menuju Probolinggo (Jawa Timur) memakan waktu yang cukup lama ketimbang kereta api.

Saat itu, saya pun harus berhari-hari melawan ketakutan supaya tidak takut. Bunda Amie (teman yang ketemu sekali di acara ulang tahun majalah Nova) bilang kalau takut pada ketinggian cobalah naik pesawat. Wah, justru itu saya takut. Tapi saya harus menaklukan rasa takut itu.

Mungkin Bunda sama seperti saya phobia pada ketinggian dan takut naik pesawat berikut saya coba tulis berdasarkan pengalaman dan sekarang jadi ketagihan

  1. Alihkan pikiran kita, anggap bahwa naik pesawat itu sama seperti kita naik angkot, atau kereta api.
  2. Harus berani dan jangan menyerah.
  3. Jangan lupa berdoa
  4. Pilihlah posisi kursi di tengah, jangan ambil yang dekat jendela yaa Bun
  5. Tutup jendela (Jika sudah diizinkan sama pramugarinya)
  6. Ketika pesawat akan terbang alihkan pikiran kita seperti tidur, nonton TV, kalau bawa bayi ngobrol sama bayi, membaca, ngotak-ngatik mainan atau sebagainya. Waktu itu saya fokus dengan cara mengobrol dengan Mas Gibran, menyusuinya sesekali sambil nonton tv.
  7. Ketika berada di atas anggap bahwa sedang ada di darat
  8. Cobalah lihat sedikit demi sedikit ada pemandangan indah yang menakjubkan.

Waktu pesawat akan landing memberanikan diri  untuk melirik awan yang masih tersisa. Oh..menakjubkan awan-awan serupa kapas atau buah kapuk yang baru saja jatuh dan di buka, juga bangunan-bangunan tinggi, rumah seperti miniatur.

“Jika di bom, kita mau lari ke mana yaa”, sambil melirik suami saya.

Mendadak hening 🙂

Alhamdulllah setelah pengalaman tersebut saya malah ketagihan dan rasa takut pada ketinggian mulai berkurang.

Bagi Bunda yang masih takut seperti saya, tarik napas dan semoga selamat sampai tujuan. 🙂

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *