Bimtek Ngabaso (Ngabaturan Barudak Sakola Online)

doc. Pribadi Kegiatan Bimtek Ngabaso

Pangandaran, 26 Februari 2021. Ini pengalaman pribadi saya mengikuti Bimtek Ngabaso. Saya diberikan kesempatan oleh Disdikpora Kabupaten Pangandaran sebagai peserta perwakilan guru dalam kegiatan Bimtek Relawan Ngabaso (Ngabaturan Barudak Sakola Online).

Mendengar istilah Ngabaso mungkin pikiran kita langsung tertuju pada makanan yang sangat digandrungi di Indonesia. Namun, Ngabaso pada kegiatan ini bukanlah Ngabaso makanan melainkan akronim dari Ngabaturan Barudak Sakola Online.

Seperti kita ketahu bahwa, di masa pandemi ini anak-anak belajar online hal ini tak lain untuk memutus rantai covid-19 agar tidak menyebar luas.

Banyak ilmu yang bermanfaat salah satunya adalah mengingatkan kita selaku orang tua maupun guru bahwa anak memiliki hak anak yang harus dipenuhi.

Kegiatan Bimtek Ngabaso ini diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat pada hari Selasa, 23 Februari 2021 dengan jumlah peserta yang hadir via zoom kurang lebih 90 peserta. Bimtek Ngabaso ini bertujuan untuk membekali pendamping atau relawan Ngabaturan barudak ka sakola sebagai upaya pemenuhan hak anak di ruang publik khususnya di ruang belajar anak sekolah online di masa Pandemi Covid-19 agar anak dapat merasa aman dan nyaman saat sekolah online.

Berikut oleh-oleh dari hasil kegiatan Bimtek Ngabaso yang bisa saya bagikan

http://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/key/tnXyRxwMqxwHxX Ngabaso ruang ramah anak (kandi sekarwulan) from YunitaIndriani6

Continue Reading

Jaring-jaring Bangun Ruang Kubus

Kompetensi Dasar:

3.6 Menjelaskan dan menemukan jaring-jaring bangun ruang sederhana
(kubus dan balok)

4.6 Membuat jaring-jaring bangun ruang sederhana (kubus dan balok).

Pernahkah kalian mencermati bangun ruang yang ada di dalam rumah? Adakah bangun ruang yang berbentuk seperti kubus? Benar sekali, dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita melihat bangun ruang yang berbentuk kubus Contohnya bangun ruang yang berbentuk kubus adalah dadu, fuzzle, dan bentuk lainnya.

Masih ingatkah apa itu kubus?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) balok adalah ruang berbatas enam bidang segi empat.

Ciri khas dari kubus ini yaitu memiliki 6 sisi yang berbentuk persegi dengan rusuk sebanyak 12 yang sama panjangnya

Pengertian Jaring-Jaring

Hari ini kita akan belajar tentang jaring-jaring kubus ya. Apa itu jaring-jaring kubus?

Jaring-jaring adalah bidang datar yang berupa gabungan dari bangun datar yang menyusun suatu bangun ruang, misalnya kubus, balok, prisma, dan lain-lain.

Jadi jaring-jaring kubus adalah bidang datar dengan sisi-sisi yang sama panjang jika digabungkan akan membentuk kubus.

Membuat Jaring-jaring Kubus

Kubus memiliki 6 sisi yang berbentuk persegi. Cara membuat jaring-jaring kubus, yaitu dengan membuka kubus pada rusuk-rusuknya.

Perhatikan gambar berikut

Gambar tersebut jika digabungkan akan membentuk kubus.

Latihan

  1. Siapkanlah kertas dan buatlah gambar yang tiap sisinya sama panjang kemudian selidikilah dari gambar berikut manakah yang termasuk jaring-jaring kubus? (Jawaban nomor 1 ditulis di kolom komentar dan di buku ya )

2. Siapkan karton. Carilah salah satu jaring kubus dari gambar tersebut yang membentuk suatu kubus, kemudian buatlah kubus dengan ukuran tiap panjang sisinya adalah 15 cm. (Hasilnya difotokan atau di video)

Jika tida ada yang mengerti mari kita diskusi di sini ya

============Selamat belajar ======

Continue Reading

RANGKUMAN BIMTEK AKM

Latar Belakang

Hasil PISA membuktikan kemampuan belajar siswa pada pendidikan dasar dan menengah kurang memadai. Pada tahun 2018, sekitar 70% siswa memiliki kompetensi literasi membaca di bawah minimum. Sama halnya dengan keterampilan matematika dan sains, 71% siswa berada di bawah kompetensi minimum untuk matematika dan 60% siswa di bawah kompetensi minimum untuk keterampilan sains. Skor PISA Indonesia stagnan dalam 10-15 tahun terakhir. Kondisi ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang konsisten dengan peringkat hasil PISA yang terendah. Bagaimana pendapat Anda? 

Menanggapi kondisi tersebut, reformasi asesmen diperlukan guna mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Pemetaan mutu pendidikan secara menyeluruh dibutuhkan. Untuk itu pada tahun 2021 mendatang, Asesmen Nasional (AN) akan resmi diterapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Ujian Nasional (UN) sudah tidak lagi diberlakukan. Kebijakan ini ditetapkan berdasarkan hasil koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan sejumlah dinas dan lembaga terkait.

Dalam hal ini, AN diterapkan untuk mengevaluasi kinerja dan mutu sistem pendidikan. Nantinya, hasil Asesmen Nasional tidak memiliki konsekuensi apapun pada pencapaian proses belajar siswa namun memberikan umpan balik untuk tindak lanjut pembelajaran dan kompetensi siswa.

Kebijakan terkait penerapan Asesmen Nasional (AN) ini telah disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Anda dapat mendengarkan penjelasannya lebih detail dengan menyaksikan video yang disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Silakan cermati dengan seksama dan mencatat poin penting yang Anda peroleh. 

bahwa Asesmen Nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Pertanyaannya, mutu pendidikan seperti apa yang diharapkan? Apakah mutu pendidikan dapat dilihat dari hasil Ujian Nasional saja seperti yang selama ini terjadi?

Peningkatan mutu sistem pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian siswa dalam menguasai materi pelajaran dan nilai ujian akhir, apapun sebutannya. Keberhasilan sistem pendidikan lebih difokuskan pada pencapaian kompetensi siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Terlebih pada era transformasi pendidikan abad ke-21, dimana arus perubahan menuntut siswa menguasai berbagai kecakapan hidup yang esensial untuk menghadapi berbagai tantangan abad ke-21 dimana siswa memiliki kecakapan belajar dan berinovasi, kecakapan menggunakan teknologi informasi, kecakapan hidup untuk bekerja dan berkontribusi pada masyarakat.

Asesmen Nasional diberlakukan sebagai alat ukur untuk mengetahui ketercapaian kompetensi yang harus dikuasai siswa. Asesmen Nasional tidak hanya memotret hasil belajar kognitif siswa, sebagaimana yang terjadi dalam Ujian Nasional namun juga memotret hasil belajar sosial emosional. Termasuk di dalamnya sikap, nilai, keyakinan, serta perilaku yang dapat memprediksi tindakan dan kinerja siswa di berbagai konteks yang relevan. 

Selain tuntutan kecakapan abad 21, profil pelajar Pancasila juga menjadi rujukan pencapaian karakter bagi seluruh siswa di Indonesia. Bahkan profil pelajar pancasila ini sudah merangkum serangkaian kecakapan hidup abad 21. Karakter pelajar Pancasila yang ingin dicapai oleh siswa yaitu:

  1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
  2. Berkebhinekaan global
  3. Mandiri
  4. Bernalar kritis 
  5. Kreatif
  6. Gotong royong

Silakan membaca penjelasan lebih rinci mengenai profil pelajar Pancasila melalui tautan berikut ini Profil Pelajar Pancasila

Untuk itu, penting bagi guru dan siswa untuk mengadopsi proses pembelajaran yang berfokus pada pengembangan kompetensi. Pencapaian kompetensi siswa dapat diukur dari pemahaman konsep, dan keterampilan menerapkan konsep dalam berbagai konteks. Dengan demikian, siswa tidak hanya menguasai konten semata, tetapi lebih menguasai pemahaman secara mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di berbagai konteks kehidupan. Hal ini yang diharapkan sebagai peningkatan hasil pembelajaran siswa. Capaian kompetensi siswa secara holistik inilah yang ingin dievaluasi melalui Asesmen Nasional.

Bagaimana keterkaitan Asesmen Nasional dengan kecakapan abad 21 dan profil pelajar Pancasila? Simak penjelasannya pada materi yang telah disediakan berikut ini. 

Pengantar Program Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum

Rangkuman Inti

 Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar siswa yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

  1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur kompetensi mendasar literasi membaca dan numerasi siswa. 
  2. Survei Karakter yang mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter siswa
  3. Survei Lingkungan Belajar yang mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah.

Sumber: http://gurubelajar.kemendikbud.go.id/

Continue Reading