Teman, O dan Senja di Pantai

Teman, O

biar apa kita memulai malam

dengan duduk di angkringan

uang hanya nafas tersengal

apa yang lebih binal

kita ragukan

teman di pinggirmu

tutur dalam layar berfitur

roda boleh empat, tapi senjakala

lewat curhat, pemilih sepuluh tusuk

cerita tak berdarah, untuk apa merajuk

biar apa kita menantang tangan

bibir kita hanya menelan kemunafikan

bisik-bisiklah

kita hapus mulai dari piring yang pecah

sendok patah, dan kursi juga

tak ada, hingga semua semu

esok, teman kita bukan siapa-siapa

dalam diari lama

2022

Senja di Pantai

janji dalam suara-suara

mendayu bebas melintasi kata bernas

tidak putus menginginkan baju bagus

dalam narasi yang bertingkat-tingkat

seperti kapal membawa kabar tak bersahabat

aku menjadi pasir, berpura-pura

tidur di sepatu sihir

mereka tak mengingat awal

bertemu di sudut kamar

mendekap, menghadap hangat

terlintas keriangan yang menggapai

duka, mencari penantian, yang lupa

pada kesembunyian berabad-abad

2022

Perihal Tokoh

matanya tak bisa bersembunyi

ia lupa pada terowongan, sebab mencintai

adalah sepasang tangan

2022

Perihal Tokoh, 2

Ia membuka pintu

Matahari lupa mengetuk jendela

Ia genggam kunci menuju sepi

2022

Continue Reading

Puisi-Puisi Yunita Indriani dimuat Balai Bahasa Jabar balaibahasajabar.kemdikbud.go.id

Pembekalan Sebelum Ujian

Aku bukan guru
Yang takut kalau engkau
Menjadi orang tanpa gelarmu

Tidak ada kemenangan
Sejati ketika engkau melawan
Kemunafikan dan kesombongan

Bekalmu sebelum ujian
Jangan mencari jawaban
Ingatlah pada Tuhan

Selesaikan, tidak selamanya
Ujian itu cobaan, anakku!

Bandung, 2018

Sekolah Cahaya

Berbeda dari ruang gelap
Di sini aku sangat siap
Menjadi siswa penuh harap
Prestasi selalu kudekap

Tidak bosan kumasuki
Ruang cahaya laksana matahari
Aku menari dan bernyanyi
Ternyata aku alpa
Bahwa jam pulang lewat tak terasa

Aku bahagia di sini
Sekolahku abadi, doaku tiap hari

Bandung, 2018

Kereta Malam di Kiaracondong

Di kaca kereta
Orang-orang tidur dalam mimpinya
Aku menggunting sayapku

Aku terdiam di ujung kursi dan murung
Tidak ada suasana yang sejuk
Hanya lewat pohon besar, gelap
Lebih sunyi dari kesendirian
Tanpa obrolan kecil
Tanpa musik dan pelayan
Sekadar menawarkan bantal sandaran

Aku menginap di sini
Hujan menerjemahkan sepi
Laju kereta seperti waktu memburuku

Bandung, 2018

https://balaibahasajabar.kemdikbud.go.id/puisi-puisi-yunita-indriani/

Hujan di Rancaekek

Bahwa air hujan adalah airmata
Dari pekerja seperti mereka
Mereka yang tenggelam harapannya
Dan siap-siap menikmati pagi buta
Tanpa suara-suara mesin
Tetapi tangis yang sering

Malam tak perlu siang juga ambigu
Mereka hanya memutar lagu
Dangdut lalu pergi ke toko ibu
Beras dan kecap dan telur
Adalah teman pengantar tidur

Kemana mereka mencari
Kerja untuk tungku yang abadi
Lalu siapa yang mereka harap lagi
Seandainya anak sekolah berhenti
Uang jajan diminta berkali-kali
Istri dan suami bertengkar setiap pagi

Bandung, 2018

Biodata Penulis;
Yunita Indriani, lahir di Bandung, 22 Juni 1988. Karya puisi pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Indopos, Tabloid Bali, Majalah Cakra. Antologi puisi bersama antara lain, Bersama Gerimis (Majelis Sastra Bandung, 2010), Nun (Indopos, 2015). Sekarang aktif mengajar sebagai Guru SDN Cangkuang 01 Rancaekek Kabupaten Bandung

Selengkapnya klik https://balaibahasajabar.kemdikbud.go.id/puisi-puisi-yunita-indriani/

Continue Reading

Senja Memerah

Senja memerah.

Ada bayangan yang tertinggal di bantalmu.

Ada kenangan yang tersimpan dalam bayangan.

Semua luruh saat malam mulai memekar.

Bila sang fajar datang, ia kembali ke senja merah. #Pnd, 6 Feb 2020

Continue Reading